SEJARAH SASTRA ARAB ANDALUSIA
(SPANYOL)
KELOMPOK
5
ROSALIA
MASRIADI
MUH TAHIR BADDU
JURUSAN SATRA ASIA BARAT
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada
penyusun, sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini dibuat sebagai
tugas dari dosen mata kuliah Kesusastraan Arab 2. Dengan selesainya makalah ini
tidak lupa penyusun ucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam proses pembuatan makalah
ini, Pak Supratman,SS,.MA selaku dosen mata kuliah Kesusastraan Arab 2 dan
teman teman Sastra Asia Barat angkatan 2012.
Kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada pihak-pihak yang turut mengambil andil dalam terselesaikannya makalah
ini, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Semoga segala usaha dalam
menyelesaikan makalah ini mendapat keridhoan dari oleh Allah Swt, Amin.
Dengan
demikian, kami berharap makalah ini dapat memberi manfaat terhadap pembaca
khususnya mahasiswa Sastra Asia Barat agar lebih memahami mengenai mata kuliah
Kesusastraan Arab
Dalam
Sejarah Islam, dua dinasti besar berhasil membawa Islam ke puncak kejayaannya.
Dinasti Abbasiyyah di Baghdad dan Dinasti Umayyah II di Andalusia (sekarang
Spanyol) adalah dua dinasti Islam yang saling berlomba meraih kejayaan Islam.
Persaingan keduanya menjadikan Islam mencapai masa puncak keemasaannya dalam
berbagai bidang, meliputi bidang kebudayaan, sosial, politik, militer, dan
ekonomi.
Sastra
(al-Adab) merupakan salah satu unsur kebudayaan yang mencapai masa keemasannya
pada masa itu. Sastra adalah salah satu unsur kebudayaan yang paling terkenal
dalam Renaisans Andalusia yang diprakarsai oleh Abdurrahman al-Dakhil sehingga
mirip dengan tradisi istana Troubadour Perancis (penyair dan penyanyi keliling
pada abad ke-11 sampai abad ke-13).
Kebangkitan
sastra pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah terkait dengan kemajuan budaya,
keadaan politik, ekonomi, dan sosial masyarakat Andalusia. Oleh karena itu, makalah
ini akan memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi sastra pada masa Dinasti
Umayyah II yang meliputi latar belakang budaya, politik, ekonomi, dan sosial
masyarakat Andalusia.
Sejarah
dinasti-dinasti Islam di Andalusia merupakan sejarah Islam terpanjang jika
dibandingkan dengan dinasti-dinasti Islam lainnya.
Wilayah
Andalusia yang sekarang disebut Spanyol, terletak di ujung selatan Benua Eropa,
masuk ke dalam kekuasaan Dinasti Abbasiyyah semenjak Thariq Bin Ziyad, bawahan
Musa Bin Nushair Gubernur Qairuwan, mengalahkan pasukan Gothia tahun 92 H/711
M. Thariq membawa serta 7000 pasukannya melewati lautan luas dengan menumpangi
perahu-perahu besar kiriman Ratu Yulian, salah satu penguasa pesisir Maghrib, yang
ingin menghukum puterinya yang berpihak kepada Raja Roderick. Kemenangan ini
menjadi awal bagi Thariq untuk menaklukkan kota-kota lain di Semenanjung
LIberia Peninsula (Andalusia) tanpa banyak kesulitan. Mereka semua di bawah
perintah Khalifah al-Walid Bin Abd al-Malik, penguasa Dinasti Umayyah yang
berpusat di Damaskus.
Saat
itu, Andalusia di bawah kekuasaan Raja Roderick yang zalim. Ia memaksa Yahudi
agar membantunya dalam ekspansi-ekspansi. Akan tetapi, Yahudi berbalik arah
membantu pasukan muslimin dalam penaklukan kekuasaan Roderick di Andalusia.
Secara
terperinci, faktor-faktor keberhasilan pasukan muslimin dalam penaklukan
Andalusia adalah sebagai berikut:
- Penduduk Spanyol merasa terzalimi dengan sikap kekuasaan Romawi di sana yang tidak adil, tidak toleran, dan terkesan kasar.
- Mayoritas penduduk Spanyol beragama watsanîyyah (penyembah berhala). Mereka tidak kerasan dengan agama Kristen yang merupakan agama baru di sana. Mereka hanya menginginkan ketenangan saat melakukan ritual keagamaannya yang saat itu terjadi pemaksaan agama.
- Para budak kaum Kristiani merasa lebih senang berada di bawah kekuasaan Islam yang memberikan mereka kesempatan untuk bebas. Mereka merasa terkekang bahkan tidak merasakan lagi sekujur tubuhnya karena beratnya beban yang dipikul saat berada di tangan tuan yang Kristen.
Penguasaan
umat Islam terhadap Andalusia dapat dibagi menjadi beberapa periode:
Periode
antara tahun 711-755 M, Andalusia diperintah oleh para wali yang diangkat oleh khalifah
Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam periode ini, Andalusia secara
politis belum stabil, masih terjadi perebutan kekuasaan antar elit penguasa dan
masih adanya ancaman musuh Islam dari penguasa setempat.
Perioe
antara tahun 755-1013 M pada waktu Andalusia dikuasai oleh Daulah Umawiyyah II.
Periode ini dibagi dua:
Masa
keamiran tahun 755-912 M. Masa ini dimulai ketika Abd Rahman al-Dakhîl berhasil
memasuki Andalusia dan menaklukkan penguasanya, yaitu Yusuf al-Fihr.
Masa
kekhalifahan tahun 1912-1013 M, ketika Abd Rahman III, amir ke-8 Bani Umayyah
II, menggelari diri dengan al-Nâshir li Dînillah (912-961 M). Kedudukannya
dilanjutkan oleh Hakam II (961-976 M), kemudian oleh Hisyam (976-1007 M).
3.
Periode ke Tiga
Periode
antara tahun 1031-1492 M,ketika umat Islam Andalusia terpecah dan menjadi
kerajaan-kerajaan kecil. Periode ini dibagi menjdai tiga masa:
Masa
kerajaan-kerajaan kecil yang sifatnya lokal tahun 1031-1086 M, jumlahnya
sekitar 20 buah. Masa ini disebut Muluk al-Thawaif. Mereka mendirikan kerajaan
berdasarkan etnis Barbar, Slovia, atau Andalusia yang bertikai satu sama lain
sehingga menimbulkan keberanian umat Kristen di Utara untuk menyerang. Ada dua
faktor utama yang mengawali penyerbuan Kristen terhadap Islam Spanyol. Pertama,
timbulnya perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam ditandai oleh lahirnya
imarat-imarat kecil. Kedua, bersatunya umat Kristen di utara Spanyol, terutama
di daerah Perancis. Namun dalam bidang peradaban mengalami kemajuan karena
masing-masing ibu kota kerajaan lokal ingin menyaingi kemajuan Cordova.
Muncullah kota-kota besar Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada.
Masa
antara tahun 1086-1235 M, ketika umat Islam Andalusia di bawah kekuasaan bangsa
Barbar dari Afrika Utara. Mula-mula bangsa Barbar dipimpin oleh Yusuf bin
Tasyfin mendirikan Daulah Murabbithun, kemudian datang ke Andalusia untuk
menolong umat Islam Andalusia mengusir umat Kristen yang menyerang Sevilla pada
tahun 1086. Beliau kemudian menggabungkan Mulûk al-Thawâif ke dalam dinasti yang
dipimpinnya sampai tahun 1143 M. Ketika dinasti ini melemah digantikan oleh
Dinasti Barbar lain, al-Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti ini datang ke
Andalusia dipimpin oleh Abdul Mu‘min. Pada masa puteranya, Abu Ya‘qub Yusuf bin
Abd al-mu‘min (1163-1184) Andalus mengalami masa kejayaan. Namun sepeninggal
sultan ini, al-Muwahhidun mengalami kelemahan. Paus Innocent III menghasut
raja-raja kristen untuk mengadakan penaklukan kembali. Andalusia mengalmi
perpecahan kembali di bawah raja-raja lokal, sedangkan umat kristen semakin
kuat dan meyerang sehingga Kordoba pun jatuh pada tahun 1236 M. Umat Islam
Andalusia jatuh di tangan Kristen kecuali Granada yang dikuasai oleh Bani Ahmar
sejak tahun 1232 M.
Masa
antara tahun 1232-1492 ketika umat Islam Andalusia bertahan di wilayah Granada
di bawah kekuasaan Bani Ahmar. Pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad bin
Yusuf bergelar al-Nashr, oleh karena itu kerajaan ini disebut juga Nashriyyah.
Kerajaan ini merupakan kerjaan terakhir umat Islam Andalusia yang berkuasa di
wilayah Almeria dan Gibraltar, pesisir Tenggara Andalusia. Dinasti ini dapat
bertahan karena dilingkupi oleh bukit sebagai pertahanan dan mempunyai hubungan
yang dekat dengan negeri Islam Afrika Utara yang waktu itu di bawah kerajaan
Marin. Ditambah lagi Granada merupakan tempat berkumpulnya pelarian tentara dan
umat Islam dari wilayah selain Andalusia ketika wilayah itu dikuasai oleh
Kristen. Namun, pada tanggal 2 Januari 1492, raja terakhir, Abu Abdillah
menyerah kepada Raja Ferdinand dengan perjanjian sebagai berikut:
1)
Raja Ferdinand akan melindungi umat Islam, baik jiwanya, harta benda, maupun
agamanya.
2)
Raja Ferdinand membiarkan mesjid-mesjid dan harta wakaf dalam keadaan seperti
biasa.
Jabatan
penting kekhalifahan diwariskan secara turun temurun, kendati para perwira dan
bangsawan sering memilih orang yang mereka sukai. Jabatan seorang hâjib
(pengurus rumah tangga) berada di atas kedudukan para wazîr (menteri). Ia
menjadi perantara komunikasi antara wazîr dengan khalifah. Setiap wazîr disertai
kâtib (sekretaris). Provinsi-provinsi diperintah oleh seorang gubernur sipil
dan militer yang disebut wâlî. Beberapa kota penting juga diperintahkan oleh
wâlî. Peradilan dijalankan langsung oleh khalifah, kemudian mewakilkan
wewenangnya kepada para qâdhî yang dipimpin oleh qâdhî al-qudhât yang
berkedudukan di Kordoba. Kasus-kasus kriminal domestik diadili oleh seorang
hakim khusus, shâhib al-Syurthah. Sedangkan pengaduan warga atas ketidak
puasannya terhadap pelayanan pemerintah diselesaikan oleh hakim khusus, shâhib
al-Mazhâlim. Hukuman yang biasanya dikenakan kepada para tersangka adalah
denda, skorsing, penjara, pemotongan anggota tubuh, dan hukuman mati.
Jabatan
penting lainnya yang bertugas mengarahkan kepolisian, mengawasi perdagangan dan
pasar, dan ikut serta mengurus masalah amoral dan kriminal adalah muhtasib.
Situasi
politik pemerintahan tergantung penguasa yang menduduki singgasana
kekhalifahan. Khallifah yang memiliki kecakapan dalam mengelola
pemerintahannya, seperti Khalifah al-Manshur mampu mengatasi permusuhan dan
mengendalikan pemerintahan sehingga seluruh daerah Andalusia menjadi aman,
sepanjang hidupnya tidak terjadi gejolak karena kebesaran posisi dan kekuatan
politiknya. Berbeda dengan Khlaifah Hisyam sebagai pengganti Khalifah al-Hakam al-Mustanshir.
Ia sosok yang tidak cerdas, kurang cekatan, dan lemah pendirian.
Masa
Abbasiyah dan Umayyah di Andalusia adalah masa puncak kejayaan peradaban Islam.
Di masa inilah berkembang dan memuncak ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama
maupun pengetahuan umum. Sejarah mencatat masa ini disebut The Golden Age of
Islam yang memberikan pengaruh terhadap tercapainya kemajuan dan peradaban
modern di Barat sekarang. Pada masa ini, London dan Paris adalah kota kecil.
Tidak ada seni, kesusastraan, atau diskusi yang menonjol di semua tempat Eropa.
Penduduk
Andalusia sangat menyukai budaya dan pemikiran sehingga kedudukan para
cendikiawan di mata mereka tinggi sekali. Oleh karena itu, banyak karya yang
dihasilkan oleh para ilmuwan dalam berbagai bidang.
Di
samping itu, mereka juga gemar mengoleksi buku sehingga muncul statement di
kalangan mereka bahwa semua rumah di Andalusia pasti terdapat perpustakaan di
dalamnya meskipun rumah orang awam.
Dinasti
ini sangat terkenal dalam mengembangkan sejarah bidang kesusastraan dan ilmu
pengetahuan di Kordoba dan Granada. Kesusastraan, perpustakaan, dan tempat
pemandian di Andalusia merupakan simbol keagungan peradaban muslim. Dalam
bidang kesusastraan, Abdurrahman sebagai seorang yang mencintai syair Arab,
sangat mendorong berkembangnya bidang ini sehingga bermunculanlah ahli-ahli
sastra Arab yang diilhami oleh kemajuan kesusastraan di dunia Islam bagian
Timur. Tokoh penyair istana adalah Abu al-Makhsyi, sedangkan tokoh sastrawan
lainnya, di antaranya Abu Umar Ahmad Bin Muhammad bin Abd Rabih yang menulis
karya sastra al-Iqd al-Farid.
Abdurrahman
II dan puteranya al-Hakam II, mendirikan sebuah perpustakaan besar di Kordoba
yang menjadi kebanggaan Andalusia dan perpustakaan paling terkenal di dunia Islam.
Al-Hakam II mencari dan membeli buku-buku yang menarik dan sulit diperoleh. Ia
sendiri menulis surat kepada penulis kenamaan untuk memperoleh naskah dari
karya-karya penulis tersebut dan membayarnya dengan harga tinggi. Sehingga
perpustakaan ini berisikan 400.000 jilid buku lebih dan 40 jilid katalog berisi
50 lembar yang dalam setiap jilid dialokasikan khusus untuk puisi sebanyak 20
halaman.
Bidang
ilmu ke-Islaman yang berkembang saat itu adalah fikih, hadis, tafsir, ilmu
kalam, sejarah, tata bahasa Arab dan filsafat. Hal terpenting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini adalah perhatian penuh pemerintah
terhadap pendidikan. Secara umum, pendidikan dibagi ke dalam tiga kelas:
rendah, menengah, dan tinggi. Pendidikan rendah dilaksanakan di mesjid-mesjid.
Pada tingkat ini diajarkan cara baca tulis, membaca al-Qur’an dan tata bahasa
Arab. Pada tingkat menengah dilakukan secara perorangan tergantung kemampuan
pelajar. Karena itu, pada umumnya, materi pelajaran yang dipelajari pada
tingkat ini adalah fikih, tata bahasa Arab, matematika, sejarah, dan hadis.
Pendidikan tingkat tinggi mulai diadakan zaman al-Hakam II. Institusi ini
berpusat di Kordoba dan dipegang serta dikendalikan secara informal oleh
sekelompok profesor. Perguruan tinggi ini menjadi model bagi perguruan tinggi
di Oxpord dan Cambridge. Oleh karena itu, selama setengah abad (969-1027 M),
Kordoba menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia selain Baghdad.
Manajemen
pendidikan yang berkualitas ini telah menghasilkan banyak sarjana muslim yang jenius.
Empat orang cendekiawan sangat menonjol pada kurun ini. Mereka adalah Abu Bakar
al-Râzî, seorang spesialis farmakologi, filofof Abu Nasr al-Farabî, filosof
Ibnu Sina, dan al-Ghazzali yang dianggap sebagi puncak pemkiran intelektual
Arab.
Sejumlah
pelajar Andalusia mengadakan rihlah ilmiyyah ke Dunia Timur dengan tujuan
mempelajari budaya Timur dan memperkenalkannya kepada penduduk Andalusia supaya
ditiru. Diantaranya Yahya Bin Yahya al-Laitsî yang berguru kepada Imam Malik di
Madinah dan Yahya Bin al-Hakam al-Ghazzâl, seorang penyair ulung alumnus
Baghdad.
Di
samping mengirim sejumlah pelajarnya ke Dunia Timur, Dinasti Umayyah II meminta
para cendikiawan Dunia Timur agar berkenan datang ke Andalusia untuk
mengajarkan ilmunya di sana, diantaranya Abu ‘Alî al-Qâlî, pengarang Kitab
al-Amâlî, dan Abû al-‘Alâ Shâ‘id Bin al-Hasan al-Baghdâdî. Di samping itu,
banyak pelajar dari Barat yang belajar ke Andalusia karena merupakan bagian
dari Benua Eropa.
Dalam
bidang arsitektur, pada tahun 786 H, Abdurrahman al-Dakhil merintis membangun
kota Kordoba lengkap dengan istana, taman, dan mesjid. Kemudian mesjid Kordoba
diperbesar oleh Abdurrahman II dan Hakam II sehingga menjadi sangat indah.
Perluasan mesjid Kordoba pada masa Al-Hakam II telah menghabiskan biaya sebesar
261.537 dinar dan 1 ½ dirham. Selain itu, pada saat kota-kota di Eropa masih
tenggelam dengan jalan-jalan yang becek dan gelap, jalanan kota Kordoba penuh
dengan lampu-lampu yang menerangi di saat malam dan menambah kesempurnaan
keindahan kota. Pada masa Abdurrahman III, dibangun pula sebuah istana hasil
perpaduan arsitektur Byzantium dan Islam yang dilengkapi dengan air mancur dan
patung manusia yang indah. Istana ini diberi nama al-Zahra, isteri Abdurrahman
III tercinta, yang runtuh pada tahun 1013 karena serangan kaum Barbar. Tempat
istana ini diberi nama oleh Abdurrahman III sebagai “Madînat al-Zahrâ”. Selain
itu, 12 buah patung singa di istana Lions di al-Hambra sebagai bentuk kerja
sama yang solid antara penguasa Muslim dan Kristen.
Penduduk
Andalusia terdiri dari banyak ragam suku bangsa. Selain penduduk asli dari
bangsa Spanyol, mereka juga terdiri dari bangsa Arab yang memasuki Andalusia,
baik dengan cara perang maupun imigrasi setelah Andalusia dikuasai penuh oleh
mereka, bangsa Barbar yang berasal dari Afrika bagian Utara, Slavia, Yahudi,
dan bangsa-bangsa lainnya.
Jika
kita mendefinisikan suatu masyarakat yang beradab sebagai masyarakat yang
mendorong toleransi beragama dan etnis, bebas berdiskusi, dan kemajuan-kemajuan
dalam banyak bidang, maka umat Islam Spanyol adalah suatu contoh yang baik.
Mereka
hidup rukun walupun berbeda agama. Pemerintahan Islam saat itu, sangat
memperhatikan toleransi beragama dan menjaga persatuan rakyatnya dengan cara
menyamaratakan antara pemeluk agama, baik umat Islam, Yahudi, maupun Kristiani.
Para pemeluk Yahudi dan Kristen dibebani jizyah namun disesuaikan dengan kadar
kemampuan finansial mereka. Nominal jizyah mulai dari 12 dirham sampai 48
dirham. 12 Dirham diperuntukkan bagi mereka yang hidup pas-pasan. Agar tidak
memberatkan, pemerintah menyuruh mereka yang kurang mampu, membayar jizyah
secara berkala, yaitu satu dirham pertahun. Adapun pajak bumi disesuaikan
dengan kesuburan tanahnya. Yahudi, Kristiani, dan Muslimin disamaratakan. Di samping
itu, pemerintah tidak mengganggu tanah penduduk asli Andalusia. Mereka
dibiarkan mengolahnya sendiri-sendiri.
Bercampur-baurnya
ras dan agama di Andalusia menghasilkan suatu budaya yang kaya dan dinamis.
Perkawinan lintas agama antara Yahudi, Kristen, dan Muslim menghasilkan banyak
penguasa muslim berambut pirang dan bermata biru. Ada aliansi-aliansi antara
penguasa Muslim dan Kristen karena satu sama lain saling membutuhkan.
Antara
tahun 1604-1614, kira-kira setengah juta orang Islam di semenanjung Iberia
Peninsula, salah satu kawasan Granada, bermigrasi ke Maghrib, Afrika Utara. Ini
merupakan perpindahan terakhir setelah sebelumnya mereka menyembunyikan
keyakinannya (Taqiyyah) terhadap kerajaan Kristen yang memaksa mereka untuk
memilih dua pilihan pahit: beralih ke agama Kristen atau melakukan migrasi.
Daerah Sale di Maroko adalah tempat mereka tinggal setelah terusir dari kampung
halamannya di Andalusia. Keturunan mereka masih menyimpan kunci rumah mereka
sebagai kenangan pengusiran tersebut. Peristiwa ini menimbulkan sindrom
Andalusia yang hingga kini masih menghantui orang muslim.
Negara
pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah II menggantungkan sebagian besar
pendapatannya dari bea ekspor dan impor. Seville, salah satu pelabuhan terbesar,
mengekspor kapas, zaitun dan minyak. Di samping itu, mengimpor kain dan budak
dari Mesir serta para biduanita dari Eropa dan Asia. Barang-barang yang
diekspor dari Malaga meliputi kunyit, daun ara, marmer, dan gula.
Negeri
Andalusia menjadi salah satu daratan di Eropa yang paling makmur dan paling
padat penduduknya. Ibukota dipadati oleh sekitar 13.000 tukang tenun dan sebuah
industri kulit. Dari Andalusia, kerajinan seni hias timbul dengan media kulit
di bawa ke Maroko. Kemudian dibawa ke Perancis dan Inggris.
Wol
dan sutera tidak hanya ditenun di Kordoba, tetapi juga di Malaga, Almeria, dan
pusat-pusat kerajinan lainnya. Kerajinan tembikar, yang awalnya dikuasai Cina
diperkenalkan oleh kaum muslimin ke daratan Spanyol. Almeria juga memproduksi
barang pecah belah dan kuningan. Paterna di Valencia terkenal sebagai produsen
tembikar. Jane dan Algave terkenal sebagai produsen emas dan perak, Kordoba
sebagai produsen besi dan timah, dan Malaga sebagai produsen batu merah delima.
Selain
dunia industri, kemajuan dalam bidang pertanian merupakan salah satu sisi
keagungan umat Islam Andalusia dan menjadi hadiah abadi yang diberikan orang
Arab karena sampai sekarang taman-taman yang ada di Spanyol melestarikan jejak
Orang Moor.
Dalam
kaitannya dengan alat bertransaksi jual-beli, pemerintah mendirikan lembaga
pembuat mata uang. Model koin logamnya meniru motif-motif Timur, dengan Dinar
sebagai satuan emas, dan Dirham sebagai satuan perak.
Dinasti
Umayyah II yang diproklamirkan oleh Abdurrahman al-Dakhîl di Andalusia
merupakan salah satu dari dua Dinasti Islam selain Dinasti Abbasiyyah di
Baghdad, yang membuat peradaban Islam mencapai puncaknya.
Namun,
sebelum diproklamirkan, terjadi pengusiran penguasa yang kalah perang dan
tinggal di tempat yang dianggap strategis untuk kembali merebut daerah
kekuasaannya. Maka terjadilah pengkhianatan sebagian pembesar kerajaan dari
keturunan penguasa Andalusia sebelumnya.
Selain
itu, timbul keinginan orang Kristiani untuk kembali menguasai Andalusia yang
telah direbut oleh kaum muslimin dari tangan mereka ketika ditaklukkan oleh
Thariq Bin Ziyad sehingga sering terjadi peperangan antar mereka.
Dinasti
Abbasiyyah yang merasa tersaingi dan ingin menaklukkan Dinasti Umayyah II di
Andalusia, terdorong melakukan ekspansi ke sana. Oleh karena itu, mereka
mengirim 7000 tentara yang dipimpin oleh al-‘Allâ Bin Bin Mughîts.
Meskipun
dalam dunia politik terjadi kekacauan luar biasa karena banyaknya gangguan dari
luar, Dinasti Umayyah mengalami kemajuan pesat dalam bidang kebudayaan. Keadaan
sosial masyarakat yang beraneka ragam suku,--meskipun sering terjadi
perselisihan akibat persaingan dan fanatisme suku, menjadi penyebab kemajuan
kebudayaan Islam karena satu sama lain ingin mengungguli.
Pemaparan
penulis tentang latar belakang budaya, politik, ekonomi, dan sosial masyarakat
Andalusia pada masa Dinasti Umayyah II ini, berupa kutipan-kutipan dari
beberapa referensi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan perubahan
seperlunya. Oleh karena itu, jika ditemukan kejanggalan di dalamnya, penulis
mengharapkan kritik pembaca demi peningkatan kualitas makalah dan kredibilitas
penulis.
-
Ahmed, Akbar S., Citra Muslim: Tinjauan
Sejarah dan Sosiologi. Penerjemah: Nunding Ram dan Ramli Yakub. Jakarta: Erlangga,
T.t.
-
Ahmed, Akbar S. Rekonstruksi Sejarah Islam di
Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban. Penerjemah: Amru Nst. Yogyakarta: Fajar
Pustaka Baru, 2003.
-
Armstrong, Karen. Sepintas Sejarah Islam.
Penerjemah: Ira Puspito Rini. Surabaya: Ikon Teralitera, 2004.
-
Hamur, Ahmad Ibrahim. Al-Hadhârah
al-Islâmiyyah. T.tp: T.pn, 2002.
-
Himayah, Mahmud Ali. Ibnu Hazm: Biografi,
Karya, dan Kajiannya Tentang Agama-agama. Jakarta: Lentera Basritama, 2001.
-
Hitti, Philip K. History of The Arabs.
Penerjemah: Cecep Lukman Ysin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta, 2010.
-
Khalîfah, Muhammad Muhammad dan Zaki Ali
Suwailim. Al-Adab al-‘Arabî wa Târikhuh. Kairo: al-Ma‘âhid al-Azhariyyah, 1977.
-
Lubis, Nabilah. al-Mu‘ayyan fi al-Adab
al-‘Araby wa Târikhu. Ciputat: Fakultas Adab dan Humaniora, 2005.
-
Syalbî, Ahmad. Mausû‘ah al-Târikh al-Islâmî
wa al-Hadhârah al-Islâmiyyah. Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1979.
-
Sunanto, Musrifah. Sejarah Islam Klasik:
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Prenada Media, 2004.
-
Urvoy, Dominique. Perjalan Intelektual Ibnu
Rusyd. Penerjemah: Achmad Syahid . Surabaya: Risalah Gusti, 2000.
-
Utsman, Ahmadi dan Cahya Buana. al-Adab
al-‘Arabî fî al-‘Ashr al-‘Abbâsî wa al-Andalûsî wa ‘Ashr al-Inhithâth. Ciputat:
Fakultas Adab dan Humaniora, 2010.

