
Sebut saja namaku Shifwa, saat aku membuka album memori 5 tahun lalu, hal itu kadang buatku tertawa, menangis, kecewa, marah, bahkan sakithati. Tetapi itulah yang dinamakan hidup. Penuh warna warni, suka dan duka, susah dan senang, tangis dan tawa.
Waktu
itu aku masih kelas X SMA di salah satu sekolah yang cukup terkenal. Setelah
lulus dari sebuah SMP islam di kampungku, masuk ke sebuah SMA terkenal adalah
salah satu impianku. Dan Alhamdulillah saat aku mendaftar hingga Pengumuman
hasil Seleksi masuk ke sekolah yang ku impikan, aku lulus dengan nilai terbaik
ke-2. Aku sangat senang dan bangga terhadap diriku sendiri. karena nilaiku bisa
lebih diatas dari teman-temanku yang berasal dari kota.
Akan
tetapi di balik kesenangan dan kebahagiaanku ada luka batin yang tak orang
ketahui. Semua apa yang ku harapkan tidak seperti apa yang ku bayangkan. aku
harus meninggalkan bapak, kakak dan adikku di kampung dan harus tinggal bersama
tanteku di kota tempat sekolahku. Sungguh sangat menyedihkan rasanya. karena
Sejak kematian ibuku, ayah, kakak dan adikkulah yang slalu bersamaku setiap
saat dan selalu memberikan dukungan terhadapku jika aku terjatuh.
***
Mulanya
tanteku adalah sosok yang sangat baik dan sangat perhatian. namun lama-kalamaan
itu bukanlah perhatian, tapi sebuah bentuk pengekangan atau apalah akupun tak
tahu. bagiku itu membuatku tersiksa. tanteku selalu melarangku keluar-keluar
rumah meskipun itu hanya dirumah tetanggaku, melarangku keluar bersama
teman-temanku, meski itu keluar untuk pergi kerja kelompok, melarangku ikut
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolahku, bahkan ia juga akan marah jika
aku pulang sekolah terlambat. Meskipun berbagai alasan sudah ku coba jelaskan
namun tante tak mendengarnya.
Aku
berusaha tabah menjalaninya, kadang hatiku ingin berteriak. Tapi selalu ku mencoba
berpositiv thinking kalau itu adalah bentuk kasih sayangnya padaku.
Aku
berusaha mengambil hati tante, berusaha menjelaskan pentingnya kegiatan
eksskul. aku ikhlas jika tante melarangku keluar rumah, ataupun melarangku
keluar bersama teman-teman, namun sebagai siswa yang berprestasi akupun ingin
seperti teman-temanku yang lain, ingin mengikuti kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah, Pramuka, PMR, Rohis, Pencak silat, dan sebagainya.
Suatu
hari karena aku tak tahan dengan perlakuan tante, aku mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler sekolah yaitu Palang Merah Remaja (PMR) secara Diam-diam.
Mengikuti pelatihan-pelatihan dasarnya setelah sholat juma’at. Dengan alasan wali
kelasku meminta agar aku menjemputkan anaknya
yang masih SD kelas 1 di sekolah. Hal Itu berjalan tiga bulan lamanya.
Hingga
pada suatu ketika tanteku akhirnya tahu kalau aku berbohong padanya. Sebenarnya
aku tak berbohong, aku memang menjemputkan salah seorang anak wali kelasku.
Namun setelah itu aku tak lansung pulang. Tapi aku mengikuti pelatihan PMR
dulu, sehingga pulang nanti sekitar jam setengah 14.30 siang.
Tanteku
sangat marah, ia tidak mau menerima penjelasanku. Baginya aku telah bersalah
dan harus di hukum. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku hanya pasrah
menerimanya.padahal aku sangat ingin menceritakan semua apa yang aku rasakan
pada bapak dan kakakku, tapi aku tak mau mereka membenci tanteku karena telah
memperlakukanku seperti itu.
Aku
mencoba menerima semua hukuman dari tanteku. Hampir seminggu lebih aku tidak di
perbolehkannya kesekolah, setiap pesan dari temanku yang menanyakan kealfaanku ku
harus menjawabnya kalau aku sedang sakit. Guru dan teman-temanku bermaksud
datang menjengukku, tapi aku tak memperbolehkan mereka. aku sungguh sangat
merasa bersalah pada guru dan pada teman-temanku. Sempat aku berfikir ini
mungkin adalah salahku.
Dua
minggu berlalu aku baru masuk sekolah. Aku telah memutuskan untuk tidak akan
mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah meskipun aku sangat menginginkannya. Aku
berusaha mengikuti apa keinginan tanteku. Tidak kaluar rumah, tidak akan pulang
terlambat, dan tak akan membohongi tanteku lagi. Meski diriku sendiri yang aku
bohongi. Berusaha tertawa dan melakukan semuanya dengan penuh senyuman tetapi
dalam hatiku banyak mengalirkan air mata duka, airmata lara, airmata kesedihan.
***
Setahun
telah berlalu. Mamasuki tahun kedua aku berada di sekolahku. Aku menjalani
hari-hariku seperti yang sebelum-sebelumnya. Meskipun aku mampunyai prestasi di
intra sekolah, juara 1 di kelasku dan juara Umum di sekolahku, namun aku tak
pernah memiliki prestasi dibidang ekstra. Hal ini membuatku tambah sedih pada
diriku sendiri yang hanya bisa menurut dan tak bisa melakukan apa-apa.
Suatu
ketika, aku di tawarkan oleh pak Hidayat, guru bahasa Arabku untuk mengikuti
lomba pidato 3 bahasa tingkat kabupaten. Pidato bahasa Indonesia, bahasa Arab dan
bahasa Inggris. Aku mengiyakan tawaran dari guruku itu, dan iapun memberikanku
konsep pidato yang harus aku hafalkan dalam lomba. Akan tetapi rupanya hal itu
tidak memberikan respon positif terhadap tanteku. Sehingga itu membuatku
pesimis.
Aku
tidak mengetahui sebenarnya apa alasan yang pasti sehingga tanteku melakukan
hal ini padaku. Padahal aku berusaha melakukan pekerjaan rumah dengan baik,
mengurusi anaknya dan membantunya kala
tanteku membutuhkan bantuanku. Tapi tatap saja tanteku sama sekali tak mengerti
dengan apa yang aku inginkan. Akupun mengundurkan diri untuk tak
nmengikuti lomba tersebut.
***
Guruku
datang menemui tanteku. Aku tak
mengetahui apa yang mereka bicarakan. Sewaktu aku mengundurkan diri dan
memutuskan tak ingin mengikuti lomba pidato lagi aku tak mengungkapkan alsanku
yang sebenarnya pada guruku. Aku hanya mengatakan bahwa kondisi badanku tidak
sehat dan harus banyak istirahat. Tetapi kenapa guruku menemui tanteku. Apakah
itu karena aku ?
Setelah
guruku pamit, tante menghampiriku “Auliah, bereskan segera baju-bajumu” kata
tanteku. Aku kaget mendengar ucapan tanteku dan akupun menangis.
“maaf tante, apa salahku ? aku tak pernah
memberitahukan semua ini pada siapapun. Termasuk pada pak Hidayat. Aku sudah
menjelaskannya bahwa aku mengundurkan diri karena aku merasa kondisi badanku
tidak memungkinkan untuk ikut lomba itu tante” kataku dengan derai tangis.
“sudahlah.
Kamu telah membuat tante malu dihadapan gurumu. Sebelum kesabaran tante habis,
cepat bereskan baju-bajumu” tambah tanteku
Aku
memasuki kamarku dan membereskan baju-bajuku. Mengisi selembar demi selembar
dalam tas usangku. Aku tak tahu akan kemana. Aku tak mau buat bapakku, kakakku
dan adikku kecewa di kampung. Yang aku fikirkan sekarang, sebenarnya apa
salahku sehingga aku di perlakukan seperti ini. Aku hanya ingin seperti mereka.
seperti teman-temanku yang lain. Yang tak di batasi ruang bergaulnya. Tak
dilarang mengikuti organisasi yang mendukung prestasi sekolahnya. Serta bisa
berteman dan bermain dengan siapa saja. Tetapi tanteku tak pernah mengerti
dengan semua itu. Dan tak pernah memberiku alasan yang pasti, tak pernah
memberiku alasan yang masuk akal.
Aku
pernah mengatakan kepadanya kalau aku bisa menjaga diri. Kalau aku bisa
membedakan mana hal-hal yang tak boleh aku lakukan dan mana yang boleh. Tapi
hal itu tak memberikan pengaruh apapun pada tante.
Dengan
berat hati aku meninggalkan rumah tante dan pergi menemui salah seorang temanku,
Atun namanya. Ku ceritakan padanya tentang apa yang aku rasakan selama ini.
Iapun menerimaku denagn tangan terbuka dan tidak keberatan jika aku tinggal di
tempatnya. Setelah dua hari tinggal di rumah Atun aku baru mengabari bapakku.
Alhamdulillah bapakku menyetujuiku tinggal di tempat Atun. Ku ceritakan apa
yang aku rasa selama ini pada bapak. Karena tak tahan lagi akupun menangis. Aku
rindu pada keluargaku yang selalu mengerti dengan keadaanku.
Aku
bersyukur Atun bisa menerimaku tinggal di tempatnya hingga aku lulus. Di
tempatnya aku bisa mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah, akupun bisa ikut pada
lomba pidato 3 bahasa dan Alhamdulillah
mendapatkan terbaik 2 tingkat provinsi.
Hingga
saat sekarang akupun tak mengetahui dengan pasti alasan tanteku mengekangku dan
selalu melarangku. Aku hanya ingin berprestasi di bidang ekskul, tidak untuk
melakukan apa-apa di luar. Namun tanteku tak pernah mengizinkanku. Trimakasih
tante selalu khawatir padaku dan aku berharap suatu saat aku bisa mengetahui
alasan tanteku selalu mengekangku.
***SEKIAN***
