Rabu, 18 Februari 2015

Apa Alasannya ?????


Sebut saja namaku Shifwa, saat aku membuka album memori 5 tahun lalu, hal itu kadang buatku tertawa, menangis, kecewa, marah, bahkan sakithati. Tetapi itulah yang dinamakan hidup. Penuh warna warni, suka dan duka, susah dan senang, tangis dan tawa.

Waktu itu aku masih kelas X SMA di salah satu sekolah yang cukup terkenal. Setelah lulus dari sebuah SMP islam di kampungku, masuk ke sebuah SMA terkenal adalah salah satu impianku. Dan Alhamdulillah saat aku mendaftar hingga Pengumuman hasil Seleksi masuk ke sekolah yang ku impikan, aku lulus dengan nilai terbaik ke-2. Aku sangat senang dan bangga terhadap diriku sendiri. karena nilaiku bisa lebih diatas dari teman-temanku yang berasal dari kota.
Akan tetapi di balik kesenangan dan kebahagiaanku ada luka batin yang tak orang ketahui. Semua apa yang ku harapkan tidak seperti apa yang ku bayangkan. aku harus meninggalkan bapak, kakak dan adikku di kampung dan harus tinggal bersama tanteku di kota tempat sekolahku. Sungguh sangat menyedihkan rasanya. karena Sejak kematian ibuku, ayah, kakak dan adikkulah yang slalu bersamaku setiap saat dan selalu memberikan dukungan terhadapku jika aku terjatuh.
***
Mulanya tanteku adalah sosok yang sangat baik dan sangat perhatian. namun lama-kalamaan itu bukanlah perhatian, tapi sebuah bentuk pengekangan atau apalah akupun tak tahu. bagiku itu membuatku tersiksa. tanteku selalu melarangku keluar-keluar rumah meskipun itu hanya dirumah tetanggaku, melarangku keluar bersama teman-temanku, meski itu keluar untuk pergi kerja kelompok, melarangku ikut kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolahku, bahkan ia juga akan marah jika aku pulang sekolah terlambat. Meskipun berbagai alasan sudah ku coba jelaskan namun tante tak mendengarnya.
Aku berusaha tabah menjalaninya, kadang hatiku ingin berteriak. Tapi selalu ku mencoba berpositiv thinking kalau itu adalah bentuk kasih sayangnya padaku.
Aku berusaha mengambil hati tante, berusaha menjelaskan pentingnya kegiatan eksskul. aku ikhlas jika tante melarangku keluar rumah, ataupun melarangku keluar bersama teman-teman, namun sebagai siswa yang berprestasi akupun ingin seperti teman-temanku yang lain, ingin mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, Pramuka, PMR, Rohis, Pencak silat, dan sebagainya.
Suatu hari karena aku tak tahan dengan perlakuan tante, aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah yaitu Palang Merah Remaja (PMR) secara Diam-diam. Mengikuti pelatihan-pelatihan dasarnya setelah sholat juma’at. Dengan alasan wali kelasku meminta agar aku menjemputkan anaknya  yang masih SD kelas 1 di sekolah.  Hal Itu berjalan tiga bulan lamanya.
Hingga pada suatu ketika tanteku akhirnya tahu kalau aku berbohong padanya. Sebenarnya aku tak berbohong, aku memang menjemputkan salah seorang anak wali kelasku. Namun setelah itu aku tak lansung pulang. Tapi aku mengikuti pelatihan PMR dulu, sehingga pulang nanti sekitar jam setengah 14.30 siang.
Tanteku sangat marah, ia tidak mau menerima penjelasanku. Baginya aku telah bersalah dan harus di hukum. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku hanya pasrah menerimanya.padahal aku sangat ingin menceritakan semua apa yang aku rasakan pada bapak dan kakakku, tapi aku tak mau mereka membenci tanteku karena telah memperlakukanku seperti itu.
Aku mencoba menerima semua hukuman dari tanteku. Hampir seminggu lebih aku tidak di perbolehkannya kesekolah, setiap pesan dari temanku yang menanyakan kealfaanku ku harus menjawabnya kalau aku sedang sakit. Guru dan teman-temanku bermaksud datang menjengukku, tapi aku tak memperbolehkan mereka. aku sungguh sangat merasa bersalah pada guru dan pada teman-temanku. Sempat aku berfikir ini mungkin adalah salahku.
Dua minggu berlalu aku baru masuk sekolah. Aku telah memutuskan untuk tidak akan mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah meskipun aku sangat menginginkannya. Aku berusaha mengikuti apa keinginan tanteku. Tidak kaluar rumah, tidak akan pulang terlambat, dan tak akan membohongi tanteku lagi. Meski diriku sendiri yang aku bohongi. Berusaha tertawa dan melakukan semuanya dengan penuh senyuman tetapi dalam hatiku banyak mengalirkan air mata duka, airmata lara, airmata kesedihan.
***
Setahun telah berlalu. Mamasuki tahun kedua aku berada di sekolahku. Aku menjalani hari-hariku seperti yang sebelum-sebelumnya. Meskipun aku mampunyai prestasi di intra sekolah, juara 1 di kelasku dan juara Umum di sekolahku, namun aku tak pernah memiliki prestasi dibidang ekstra. Hal ini membuatku tambah sedih pada diriku sendiri yang hanya bisa menurut dan tak bisa melakukan apa-apa.
Suatu ketika, aku di tawarkan oleh pak Hidayat, guru bahasa Arabku untuk mengikuti lomba pidato 3 bahasa tingkat kabupaten. Pidato bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Aku mengiyakan tawaran dari guruku itu, dan iapun memberikanku konsep pidato yang harus aku hafalkan dalam lomba. Akan tetapi rupanya hal itu tidak memberikan respon positif terhadap tanteku. Sehingga itu membuatku pesimis.
Aku tidak mengetahui sebenarnya apa alasan yang pasti sehingga tanteku melakukan hal ini padaku. Padahal aku berusaha melakukan pekerjaan rumah dengan baik, mengurusi anaknya dan membantunya  kala tanteku membutuhkan bantuanku. Tapi tatap saja tanteku sama sekali tak mengerti dengan apa yang aku inginkan. Akupun mengundurkan diri untuk tak nmengikuti  lomba tersebut.
***
Guruku  datang menemui tanteku. Aku tak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Sewaktu aku mengundurkan diri dan memutuskan tak ingin mengikuti lomba pidato lagi aku tak mengungkapkan alsanku yang sebenarnya pada guruku. Aku hanya mengatakan bahwa kondisi badanku tidak sehat dan harus banyak istirahat. Tetapi kenapa guruku menemui tanteku. Apakah itu karena aku ?
Setelah guruku pamit, tante menghampiriku “Auliah, bereskan segera baju-bajumu” kata tanteku. Aku kaget mendengar ucapan tanteku dan akupun menangis.
“maaf  tante, apa salahku ? aku tak pernah memberitahukan semua ini pada siapapun. Termasuk pada pak Hidayat. Aku sudah menjelaskannya bahwa aku mengundurkan diri karena aku merasa kondisi badanku tidak memungkinkan untuk ikut lomba itu tante” kataku dengan derai tangis.
“sudahlah. Kamu telah membuat tante malu dihadapan gurumu. Sebelum kesabaran tante habis, cepat bereskan baju-bajumu” tambah tanteku
Aku memasuki kamarku dan membereskan baju-bajuku. Mengisi selembar demi selembar dalam tas usangku. Aku tak tahu akan kemana. Aku tak mau buat bapakku, kakakku dan adikku kecewa di kampung. Yang aku fikirkan sekarang, sebenarnya apa salahku sehingga aku di perlakukan seperti ini. Aku hanya ingin seperti mereka. seperti teman-temanku yang lain. Yang tak di batasi ruang bergaulnya. Tak dilarang mengikuti organisasi yang mendukung prestasi sekolahnya. Serta bisa berteman dan bermain dengan siapa saja. Tetapi tanteku tak pernah mengerti dengan semua itu. Dan tak pernah memberiku alasan yang pasti, tak pernah memberiku alasan yang masuk akal.
Aku pernah mengatakan kepadanya kalau aku bisa menjaga diri. Kalau aku bisa membedakan mana hal-hal yang tak boleh aku lakukan dan mana yang boleh. Tapi hal itu tak memberikan pengaruh apapun pada tante.
Dengan berat hati aku meninggalkan rumah tante dan pergi menemui salah seorang temanku, Atun namanya. Ku ceritakan padanya tentang apa yang aku rasakan selama ini. Iapun menerimaku denagn tangan terbuka dan tidak keberatan jika aku tinggal di tempatnya. Setelah dua hari tinggal di rumah Atun aku baru mengabari bapakku. Alhamdulillah bapakku menyetujuiku tinggal di tempat Atun. Ku ceritakan apa yang aku rasa selama ini pada bapak. Karena tak tahan lagi akupun menangis. Aku rindu pada keluargaku yang selalu mengerti dengan keadaanku.
Aku bersyukur Atun bisa menerimaku tinggal di tempatnya hingga aku lulus. Di tempatnya aku bisa mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah, akupun bisa ikut pada lomba  pidato 3 bahasa dan Alhamdulillah mendapatkan terbaik  2 tingkat provinsi.
Hingga saat sekarang akupun tak mengetahui dengan pasti alasan tanteku mengekangku dan selalu melarangku. Aku hanya ingin berprestasi di bidang ekskul, tidak untuk melakukan apa-apa di luar. Namun tanteku tak pernah mengizinkanku. Trimakasih tante selalu khawatir padaku dan aku berharap suatu saat aku bisa mengetahui alasan tanteku selalu mengekangku.
***SEKIAN***



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar