Selasa, 23 Desember 2014

"Teruntuk Calon Pendamping Hidupku"

Bismillahirrahmanirrahim…

Aku tak menuntut kesholehan dan kesucian dirimu, 
kerana…. aku sadar, akupun bukanlah wanita yang sholehah dan suci dari dosa dan maksiat. bukankah predikat kesolehan hanya ALLAH yang berhak menilai ?
Akupun tak menuntut kesempurnaan wujudmu atau keelokan rupamu,,, 
kerana… akupun bukanlah wanita yang elok rupa tanpa cela,,, 
dan keelokan rupa hanyalah hiasan mata,,, dan selalu tak punya cela...
Akupun tak menuntut Kecerdasanmu,, 
kerana kecerdasan setiap orang pastilah tak akan pernah menjangkau ilmu_Nya....

Aku hanya ingin,,, dirimu adalah ''lelaki '' yang sadar 
dan tahu menempatkan kodratmu sebagai 'IMAM' sesuai ketentuan syari'ah...
Andaipun kau pernah bermaksiat kepada_Nya,
Maka aku harap saat ini kau tengah bertaubat dan menyesali dosa2mu,,,
Andaipun kau tak elok rupa, 
maka aku berharap saat ini kau terus memperelok hati dan akhlaqmu dengan ilmu agama...
Andaipun kau tak cerdas dendan ilmu agama,,,
Maka aku berharap kau punya KEINGINAN dan KEMAUAN 
untuk terus belajar,berbenah dan memperbaiki diri,,, 
menyiapkan bekal untuk kelak bersamaku di dunia dan di akhirat_Nya.

Kerana,,, aku tahu dan sadar benar,,, kita adalah SAMA, 
sama2 insan dhoif,,, namun semoga kita mampu meraih ridha_Nya KELAK
dgn segala kekurangan, keterbatasan dan kefanaan kita sebagai hamba_Nya.

Keep Istiqomah ya,,,,
N tersenyumlah selalu dalam memaknai hidup,,,
Sebagai wujud prasangka baikmu dan rasa syukurmu pada_Nya.


Kamis, 18 Desember 2014

___IKATAN UKHUWAH___

Sahabat....
Kala ku pernah menyakitimu
Kala  kau pernah menyakitiku
Bukan berarti kita Musuh

Aku menyakitimu bukan karena membencimu
Engkau  menyakitiku bukan karena membenciku
Namun itu adalah sayang  Itu adalah cinta
Saling menyayangi saat bersama
Memaafkan  kala terluka

sahabat…
seperti apakah duniamu sekarang ?
Ingatkah engkau cerita kita dulu ?
Cerita indah saat berada di taman syurga

Disana selalu disebut nama Allah
Disana selalu dibacakan ayat-ayatNya
hingga Ukhuwah kita terjalin dalam dekapanNya
dalam Mahabbah  karena Allah

Mushollah sekolah menjadi saksi
saksi bisu persahabatan kita
dalam tali cinta persahabatan illahi
berbagi  suka dalam tawa
dan duka dalam tangis

Merindu bila berjauh
Memahami saat khilaf
Menasehati  bila keliru
Menegur  bila tersilap

Kala payah bagai  topan
Beribu cobaan melanda ukhuwah
Takkan pernah  saling berpaling
Tetap merangkul dan menguatkan
Karena Ukhuwah adalah Cinta
Hingga bersama di Jannah Allah





**KEMBALINYA SEBUAH HARAPAN**

Ku sambut mentari pagi
Secerah hatiku saat ini
Serpihan hati mutiara kasih
Yang kunanti kini telah kembali

Syair kata tak cukup ku utarakan
Suara hati membeku dalam kiasan
Embun pagi sampaikan pesan
Rindu hati mohon utarakan
Lika liku hidup penuh rintangan
Memberi warna sebuah perjalanan
Begitu sempurnanya SANG MAHA PENCIPTA
Pemilik hati dan kehidupan


Ya Allah...ya Robbi
KaruniaMU tak terbatas langit dan bumi
Pemberi rahmat dan cinta kasih
CintaMu suci dan abadi

~~** DIA PENGGANTI IBU

“Duhai Hati, tabahlah dikau bersama kami dalam menempuh segala ujian Allah. Ingatlah kembali hadiah-hadiah yang kau peroleh dari Allah. Buka matamu seluas-luasnya. Semuanya milik Allah. Tak satupun punyamu. Semuanya hanyalah pinjaman dari-Nya dan bila masanya Ia bisa mengambil semua kapanpun Ia mau”
Sebait  tulisan yang ku baca dalam buku harian kaka. Tulisan yang selalu terngiang kala hatiku teringat akan bunda.

Waktu itu, aku baru kelas II SD, sedang adikku belum mengenyam pendidikan apapun. Bundaku yang kala itu telah sakit berbulan-bulan akhirnya menghembuskan nafas terahirnya di pangkuan ayah. Dan sejak saat itulah kakaku yang menjadi tempatku dan adikku mengeluh disaat bapakku tak berada di dekat kami.

Kaka adalah orang yang sabar menghadapi kenakalan-kenakalanku dan adikku kala kami banyak tingkah, mendidik kami dengan lembut tanpa kekerasan, mengajarkan aku saat ada tugas sekolah, dan membacakan kami dongeng kala tidur malam. Sungguh kaka menjadi pengganti ibu kami.

Walau  kakaku mengerjakan berbagai tanggung jawab rumah, namun kaka tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang siswa. kaka adalah siswa  berprestasi di sekolahnya. Bahkan Ia pernah memperolah juara satu saat mengikuti lomba cerdas cermat tingkat provinsi.

Setiap hari kaka harus bangun sebelum subuh, usai sholat subuh kaka lansung mengerjakan berbagai pekerjaan rumah agar tidak terlambat ke sekolah. Mulai dari Mencuci piring, menyiapkan sarapan,, dan menyiapkan makan siang nantinya kemudian disimpan di lemari makan. Karena setiap hari kaka pulang sekolah sekitar pukul setengah 2 siang. Pekerjaan itu tiap hari di lakukannya dengan ikhlas tanpa ada sedikitpun keluhan.

Pernah suatu ketika ayahku jatuh sakit akibat penyakit yang di deritanya. Waktu itu aku telah kelas  V SD dan adikku telah masuk SD. hampir setiap hari kaka ke sekolah selalu terlambat. Dan hampir setiap hari pula kakaku menerima nasihat dan masukan dari guru-gurunya.

“Sebagai kelas  XII seharusnya kamu lebih memfokuskan dirimu untuk menghadapi Ujian nasioanal, jika tidak jangan menyesal jika kamu tidak lulus” kata bu Elis wali kelas kakaku.
Mengetahui hal itu, aku mulai membantu meringankan pekerjaan kaka. mulai belajar mencuci piring lalu menyapu rumah dan halaman. Aku tak bisa membayangkan seberapa capeknya kaka yang selama ini mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku saja hanya menyapu halaman sudah merasa badanku begitu pegal.

Memasuki hari kaka Ujian nasional. Waktu itu aku bangun terlambat. Saat bangun, kaka telah berangkat ke sekolah. Aku tak mengerjakan tugasku. Ku lihat di atas meja telah ada sarapan untuk bapak, aku, dan adikku. Ku lihat dapur, semua telah kaka bereskan dengan rapi. Kubuka RiceKooker. Nasi telah masak. Ku lihat lemari makan lauk untuk siangpun telah ia siapkan.

Segera aku masuk ke kamar dan membangunkan adikku agar sarapan dan siap-siap kesekolah. Ku lihat seragamku dan seragam adik telah kaka siapkan. Ku dapati ada sebuah pesan dari kaka yang ditulisnya di sobekan kertas.

“dek,  jangan lupa setelah makan siang nanti piringnya segera dicuci. Usai sekolah kaka tak lansung pulang karena ada belajar tembahan di Rumah guru”

Aku menangis membaca pesan kaka. meski kaka sedang ujian, kaka masih bisa mengatur waktunya untuk mengurusi kami. Aku berdoa semoga kaka mendapatkan nilai terbaik dalam ujiannya. Akupun bertekat akan membahagiakan kaka, adik dan ayahku.

___SEBUAH ISYARAT___



Hasih ibu, kepada beta…
Tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi….
Tak harap kembali…
Bagai sang surya menyinari dunia…

Itulah lagu yang setiap kali ku nyanyikan, tak bisa kutahan airmataku. mengalir deras, membasahi pipi mulusku. lagu yang mengingatkanku kenangan terakhir bersama ibu saat 13 tahun silam. lagu terakhir yang dinyanyikan oleh ibu sebagai pengantar tidurku.

Hingga saat ini aku tak tahu, seberapa ikhlaskah diriku merelakan kepergian ibu. Aku tak tahu itu. Setiap kali aku mengenangnya selalu dan selalu  rasa sesak menghampiriku. dan butiran beningpun tak bisa ku elakkan dari mataku. Selalu dan selalu rasa sesak itu meninggalkan sakit yang tak bisa ku ungkap dengan kata-kata.

Aku tak bisa mengingat secara  pasti bagaimana kenangan-kenangan   terakhirku bersama ibu. Tak bisa mengingat dengan jelas memory  indah saat ibu masih bersamaku. Namun ku coba kumpulkan secuil demi secuil ingatanku untuk menuliskan apa yang selama ini ku rasakan.

sekitar 13 tahun lalu sebelum kematian ibu. Ibu adalah sosok ibu rumah tangga dan wanita karir yang selalu membuatku bangga. Perempuan  kuat yang selalu ada dan selalu memberikan semangat pada ayah. Dulu ayah adalah seorang kepala desa di kampungku. Sedang ibu adalah seorang ketua PKK.

Selang  dua tahun ayah menjabat sebagai seorang kepala desa. Ibuku jatuh sakit.  Entahlah, Aku tak tahu penyakit apa yang di derita ibu kala itu. wajah dan seluruh tubuh  ibu berubah menjadi kuning   dan membengkak. berdasarkan pemeriksaan dokter, Ibu terkena komplikasi penyakit liver, ginjal, jantung dan lambung.

Pada waktu itu aku telah menduduki kelas I sekolah Dasar.  Kira-kira umurku sekitar 5 tahun. Satahun  lebih mudah dari teman-temanku.   Saat  itu aku sama sekali tak pernah berfikir ibuku akan cepat meninggalkan aku.

Setahun telah  berlalu. Namun  ibu belum juga sembuh dari sakitnya.  Penyakitnya tambah parah,  tadinya wajah dan tubuhnya berwarnah kuning berubah menjadi hitam bahkan  ada  bagian-bagian tertentu yang  terkelupas seperti orang  terbakar hidup-hidup. Dokter bilang  ibu tak ada lagi harapan untuk hidup.  Saat  itupula ibu dipulangkan dari rumah sakit dan dirawat di rumah nenek,  dengan mengandalkan ramuan-ramuan herbal.
Benar  saja  Usia   ibuku  tidak  lama. Setelah seminggu dipulangkan dari rumah sakit. Ibu meninggal dunia. Jeritan tangis dan histeris dari sanak saudara terngiang di telingaku. Tak menyangka ibu benar-benar pergi meninggalkan aku untuk selamanya.

“ Wah, ibumu telah meninggal, Ayo lihatlah untuk yang terakhir kalinya sebelum ia dimakamkan !” ajak nenekku.
“nggak mau. wawa takut. Wawa nggak mau” teriak aku yang pada saat itu menganggap bahwa yang terbaring  itu bukanlah ibuku.
Aku sama sekali tak mengenali ibu lagi. Wajahnya yang hitam membuatku takut untuk mendekatinya.
“ayolah wah !” nenekkuu lalu  menarik dan menggendongku mendekati ibu.
“wawa nggak mau…. Wawa nggak mau… itu bukan ibuku… itu bukan ibuku” teriak aku di pelukan nenek.
Meskipun aku telah berada di samping ibu. Aku tak mau melihat mayat ibu. Mataku terus ku tutup dengan rapat dan tak mau membukanya, sampai ke tempat pemakaman.

“ibuu…….. ibuuu…… ibuuu……ibuku jangan dimasukan ke dalam……” kalimat itu tiba-tiba terucap ketika ku buka mataku.  Aku  memberontak dari gendongan nenek yang sedari tadi terus memelukku. Secepat kilat bapakku mengambilku, dan menenangkanku.
seminggu sejak ibu meninggal. Ada hal lain yang ku rasa.  Ada   hal yang berbeda dalam setiap aktivitasku. Ibuku yang setiap hari mengurusiku. Kini bapakkulah yang mengganti posisinya.

Saat tidur aku selalu menangis mengingat ibu. Mengingat lagu terahir yang di nyanyikan ibu untukku.  Ku coba bernyanyi sendiri lagu kasih ibu untuk mengingat wajah ibu dan kebarsamaanku dengannya. Namun belum selesai lagu itu ku nyanyikan airmataku telah deras membanjiri pipiku. Aku   baru   menyadari   ternyata dulu ibu telah mengisyaratkan kepadaku.

Waktu itu,  sebelum ibu meninggal ia selalu bertanya “ Wa  jika suatu saat  ibu meninggal kamu tinggalnya sama siapa ?” hampir setiap malam saat ibu menidurkan aku kalimat itu  tak pernah alfa keluar dari mulutnya.

Mendengar pertanyaan ibu aku tak pernah menjawabnya. Aku selalu lansung memeluknya jika mendengar kata itu. Aku   tak mau  ibu meninggalkan  ku.  Aku  masih  terlalulu dini,  masih  butuh kasih sayang,  masih perlu didikan, dan perlu perhatian dari seorang ibu.

Kini pertanyaan ibu telah terjawab. Mengapa dulu ibu selalu menanyakan itu kepadaku. Tak lain  agar aku siap jika ibu  tiada lagi  dari sisiku. Namun sampai saat ini, aku tak bisa. Aku masih tak siap. Aku masih belum ikhlas. Aku masih ingin merasakan bagaimana kasih sayang dari seorang ibu yang dulu belum sama sekali ku ketahui. Aku sama sekali tidak mengingat masa-masa indah bersama ibuku dengan jelas, ia samar, ditutupi kabut.

Kadang timbul fikiran anehku. Andai saja aku bisa menelpon ibu di alam sana. Akan ku kumpulkan semua uang jajanku untuk membeli pulsa sebanyak-banyaknya. Agar bisa  lebih lama bercerita bersama ibu. Akan ku bangun tower untuk menguatkan jaringan agar suara ibu bisa jelas terdengar. Namun semua itu lagi dan lagi hanyalah anganku.

kadang  aku juga masih iri pada mereka-meraka yang menceritakan kisah-kisahnya bersama ibu. Menangis  jika mendengar kisah tentang ibu dari teman-teman ibu….!!!! Aku mengenal sosok ibu dari sahabat-sahabatnya. Mengetahui hal-hal yang di sukainya, hal-hal yang dibencinya dari teman dan sahabat ibu.

Pernah timbul fikiran negatifku beranggapan Allah tidak menyayangiku, Allah tidak menyayangi  ibu sehingga kami terlalu cepat dipsahkan dan tak bisa lagi aku menemuinya . Namun  ini bukan  karena Allah tak menyayangiku atau tak menyayangi ibu. Sebaliknya Allah sayang. Karena kami telah berada di alam yang berbeda. Alam yang tak bisa ku lihat dengan mataku.

“ibu…. Aku hanya bisa mendoakan mu selalu dalam setiap sujud-sujudku. Aku hanya bisa memberikan baktiku lewat sahabat-sahabatmu. Semoga kelak kita benar-benar bertemu tanpa ada hijab yang membatasi… ibu….. aku menyayangimu”