Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2015

Sedikit Tentang Teman masa Abu-abu-ku

Hasil gambar untuk sahabat

Dita Ristanti
Sahabat  yang baik. Banyak mengerti tentangku. Dulu, aku selau duduk sebangku dengannya. Orangnya sederhana, meski dia berada. Suka menyimpan sesuatu dalam hati, entah itu rasa marah, sedih bahkan rasa sukanya pada seseorang. Hehe.. J Dia pernah suka sama salah seorang teman sekelas kami lho…

Sri Sufianti (Mey)
Kalo difikir dimana coba nyambung-nyambungnya antara Sri sufianti dan nama panggilnya “Mey” ? hehe…. Yah nyambung lah, wong dirinya lahir bulan Mei… J J dia orang kedua yang aku kenal saat jadi Murid baru di MAN. Yah perkenalannya sih karena tanteku menyuruhnya dan salah seorang temanku agar berangkat bersama ke sekolah, (maklum, aku masih baru).. dia orangnya putih dan berhidung mancung. Punya banyak tahi lalat di wajah. Dulu, seingatku dia punya impian menikah dengan seorang polisi… OowW….!!!!

Herlina
Salah satu cewek penggemar Westlife…  bahkan lagunya banyak yang ia hafal (hm… L) waktu kelas X kami dulu sekelas tp  akhirnya terpisah saat di kelas XI. Dulu saat kerumahnya dia pernah memberiku kue jagung, rasanya enaaaaaaaak.. (hehe,, pengen nambah J) kami sama-sama punya wajah bulat. Tinggi kamipun sekitar sebelas dua belas, hohoho…

Fifi Astriani
Hehe… sahabatku yang satu ini penampilannya rapi amat, (busheet, dia strikanya pake apa yee ??) dia juga dulu agak pemalu lho….!!! Orangnya manis, trus ada lesung pipinya lagi.. oh, iye,, dia sahabatku yang paling tinggi diantara ke-6 teman jalanku,, tapi jangan salah ia murid termudah di kelas kami lho… dulu saat masih sama-sama ia suka bangat sama SM*SH cepat juga hafal lagu…  sering curhat sama si “Mey”.. ooww  amper lupa, dia sempat dekat sama si Muli teman sekelas kami..  hehe J

Rahmi kasim
Kalo ingat dia, mau ketawa dulu sebelum nulis ini,,, abisnya lucu bangaaaat… hehehe,, (maaf Lami Chay) . kalian tahu, cewe yang satu ini kalau ketawa wajahnya jadi merah… jadi jangan coba-coba buat ia ketewa yah, krna sdikit aja ketawa wajahnya lansung merah coy… hm… dulu waktu kelas satu dirinya sering duduk di bawah tangga sama si Mariati n Fifi…

Ramniati
Kalo sahabatku yang satu ini, kami sama2 pelajar dari daerah yang sama, meski beda kampung sih…J.. Nia tuh kalo udah bicara hm…. Cerewetnya minta ampyun deh.,,,, ndak habis2.. mungkin bagusan kalau dijadiin cerita pengantar tidur. Hihih… Peace… ^_^  dia tinggal dip anti asuhan.. suka bangat dengar cerita lucunya tentang kejadiannya dip anti… ( jadi pengen ngerasain suasananya )

Mihwal
Ketua kelas yang suka melucu.. kesan pertamanya sih karena dia temanku laki-laki pertama yang berani datang ke rumah tanteku.. tujuannya sih pinjam buku Qur’an Hadits, tp eee, ternyata oh ternyata, dia juga orang pertama di sekolahku yang suka sama aku (fakta… sy tdk GR). Sukanya main gitar, baik dan humoris, suka buat tingkah lucu tapi garing. Dulu aku sempat kagum karena ia mulai mendekati agama Allah, tp ia berubah saat pacaran sama adek kelas kami, si cantik nan ayu..

Muh. Dalle
Sosok teman pertama yang kulihat berwibawa di sekolah. suka nundulin pandangan sama cewe2. Selalu meraih rengking tiga besar dikelas. Dia ketua kelas kami saat di kelas XI. Pintar ngaji, Cuek sama perempuan. Dulu saat sekelompok dengannya ia malah ndak bantuin, padahal kan pengen juga masukan darinya. Ah… sudahlah,, bodoh amat… JJJ  Konon sih banyak yang diam-diam suka padanya, termasuk salah seorang sahabatku lho…

Muh.Rifaldy
Kesan awalnya karna waktu MOS dia bernyanyi lagu cicak-cicak di dinding fersi dangdut.. pokoknya kocak abis deh…. (hihih). Orangnya tinggi kurus dan hobi main pencak silat/kerete. Suka buat tingkah lucu yang kekanak-kanakan. Bayangkan aja,, dulu ia pernah cerita tentang ayamnya. Atau kadang juga burung peliharaannya. Orangnya peliiiiit.. masa dia ndak pernah ngasih aku tumpangan saat pulang skolah (wktu skolahnya msh di cokro) padahal kan rumah kami berdekatan……!!! LL L

Hardiyanto
Dia dulu pacaran sama sahabatku, tapi akhirnya putus juga,. Sok ganteng tapi emang lumayan, orangnya baik dan sok romantis. Orangnya tinggi dan kurus juga, suka keringatan jadi sering buka baju. Dulu aku pernah nunjukin dia pelajaran bahasa Arab. Ia juga pernah manggil aku “o-on” karna mau minta jawaban ke aku.. L ia jg  Aktif organisasi pramuka.

Faniria Safitri
Kalo temanku yang ini mah teman satu kostku, tetangga kamar malahan..… rambutnya panjang (kadang jadi takut lihatnya). Dia tuh kalo udah menelpon sama pacarnya waduuuuuuuh… bahasa jawanya itu lho…. Mandek bangatttt….  Apalagi kalau bilang “ka’eeeeeee” hehehe… becanda Funny chay…


Sabtu, 21 Maret 2015

Kakakku Maaf, Aku Tak hadir di urs Walimahmu



Hari ini, ahad 22 Maret 2015,,, Adalah hari yang begitu spesial dan bersejarah dalam hidup dan kehidupanmu. Hari ini kau akan mendengar sebait kalimat yang sakral. kalimat yang mengakhri masa kesendirianmu, kalimat yang menghalalkanmu menjadi pendamping hidup bagi seorang lelaki. Lelaki yang akan menjadi imammu, lelaki terbaik yang sejatinya baru Allah pertemukanmu dengannya setelah penantianmu. Bersamanya kau akan arungi betapa berwarnanya kehidupan ini, yang tidak lagi sesederhana kehidupanmu disaat sendiri,,.

kakakku,, dengan berurai air mata sedih, sunyi, bahagia dan haru, aku membayangkan betapa bahagia keluarga kita di urs walimahmu itu,, semua tergambar di pelupuk mataku,,  seakan itu jelas. kubayangkan betapa cantik dan anggunnya dirimu saat ini,, dengan jilbab dan kerudungmu. Ah… semoga saja kau memakai jilbab berwarna kesukaanku. Dipadukan dengan sedikit polesan memerah dipipi dan bibirmu…. oh sungguh anggun dan memukau…

kakakku,, bahagialah kau kiranya kini dan nanti bersama suamimu,,, Maafkan aku tidak bisa bersama menyaksikan ursmu, walau sediihhh tak terkirakan tapi aku harus tersenyum. Karena hari bahagia yang lama dinanti akhirnya datang menyapamu.

karena cita-citaku aku disini. karena kebahagiaan orang-orang terkasihku aku bertahan. karena demi Allah, keberhasilanku adalah kebahagiaan orangtuaku dan kebahagiaan orang-orang terkasihku. Keberhasilan dunia dan akhirat.  aku tak bisa hadir, tetapi doaku kan selalu bersamamu, mendoakan yang terbaik dalam biduk rumahtanggahmu selamanya,,,

Anggaplah catatan kecilku yang penuh derai air mata bahagia ini sebagai pengganti kehadiranku di walimahmu itu. Jangan bersedih karena aku juga berjuang untuk melapisi airmata ini dengan senyum dan doa-doa indah buatmu,,,,


Barakallahulakuma wabaraka alaika wajama'a bainakuma fi khoir, Semoga menjadi Keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah…… Aamiin…..


Rabu, 18 Februari 2015

Apa Alasannya ?????


Sebut saja namaku Shifwa, saat aku membuka album memori 5 tahun lalu, hal itu kadang buatku tertawa, menangis, kecewa, marah, bahkan sakithati. Tetapi itulah yang dinamakan hidup. Penuh warna warni, suka dan duka, susah dan senang, tangis dan tawa.

Waktu itu aku masih kelas X SMA di salah satu sekolah yang cukup terkenal. Setelah lulus dari sebuah SMP islam di kampungku, masuk ke sebuah SMA terkenal adalah salah satu impianku. Dan Alhamdulillah saat aku mendaftar hingga Pengumuman hasil Seleksi masuk ke sekolah yang ku impikan, aku lulus dengan nilai terbaik ke-2. Aku sangat senang dan bangga terhadap diriku sendiri. karena nilaiku bisa lebih diatas dari teman-temanku yang berasal dari kota.
Akan tetapi di balik kesenangan dan kebahagiaanku ada luka batin yang tak orang ketahui. Semua apa yang ku harapkan tidak seperti apa yang ku bayangkan. aku harus meninggalkan bapak, kakak dan adikku di kampung dan harus tinggal bersama tanteku di kota tempat sekolahku. Sungguh sangat menyedihkan rasanya. karena Sejak kematian ibuku, ayah, kakak dan adikkulah yang slalu bersamaku setiap saat dan selalu memberikan dukungan terhadapku jika aku terjatuh.
***
Mulanya tanteku adalah sosok yang sangat baik dan sangat perhatian. namun lama-kalamaan itu bukanlah perhatian, tapi sebuah bentuk pengekangan atau apalah akupun tak tahu. bagiku itu membuatku tersiksa. tanteku selalu melarangku keluar-keluar rumah meskipun itu hanya dirumah tetanggaku, melarangku keluar bersama teman-temanku, meski itu keluar untuk pergi kerja kelompok, melarangku ikut kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolahku, bahkan ia juga akan marah jika aku pulang sekolah terlambat. Meskipun berbagai alasan sudah ku coba jelaskan namun tante tak mendengarnya.
Aku berusaha tabah menjalaninya, kadang hatiku ingin berteriak. Tapi selalu ku mencoba berpositiv thinking kalau itu adalah bentuk kasih sayangnya padaku.
Aku berusaha mengambil hati tante, berusaha menjelaskan pentingnya kegiatan eksskul. aku ikhlas jika tante melarangku keluar rumah, ataupun melarangku keluar bersama teman-teman, namun sebagai siswa yang berprestasi akupun ingin seperti teman-temanku yang lain, ingin mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, Pramuka, PMR, Rohis, Pencak silat, dan sebagainya.
Suatu hari karena aku tak tahan dengan perlakuan tante, aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah yaitu Palang Merah Remaja (PMR) secara Diam-diam. Mengikuti pelatihan-pelatihan dasarnya setelah sholat juma’at. Dengan alasan wali kelasku meminta agar aku menjemputkan anaknya  yang masih SD kelas 1 di sekolah.  Hal Itu berjalan tiga bulan lamanya.
Hingga pada suatu ketika tanteku akhirnya tahu kalau aku berbohong padanya. Sebenarnya aku tak berbohong, aku memang menjemputkan salah seorang anak wali kelasku. Namun setelah itu aku tak lansung pulang. Tapi aku mengikuti pelatihan PMR dulu, sehingga pulang nanti sekitar jam setengah 14.30 siang.
Tanteku sangat marah, ia tidak mau menerima penjelasanku. Baginya aku telah bersalah dan harus di hukum. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku hanya pasrah menerimanya.padahal aku sangat ingin menceritakan semua apa yang aku rasakan pada bapak dan kakakku, tapi aku tak mau mereka membenci tanteku karena telah memperlakukanku seperti itu.
Aku mencoba menerima semua hukuman dari tanteku. Hampir seminggu lebih aku tidak di perbolehkannya kesekolah, setiap pesan dari temanku yang menanyakan kealfaanku ku harus menjawabnya kalau aku sedang sakit. Guru dan teman-temanku bermaksud datang menjengukku, tapi aku tak memperbolehkan mereka. aku sungguh sangat merasa bersalah pada guru dan pada teman-temanku. Sempat aku berfikir ini mungkin adalah salahku.
Dua minggu berlalu aku baru masuk sekolah. Aku telah memutuskan untuk tidak akan mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah meskipun aku sangat menginginkannya. Aku berusaha mengikuti apa keinginan tanteku. Tidak kaluar rumah, tidak akan pulang terlambat, dan tak akan membohongi tanteku lagi. Meski diriku sendiri yang aku bohongi. Berusaha tertawa dan melakukan semuanya dengan penuh senyuman tetapi dalam hatiku banyak mengalirkan air mata duka, airmata lara, airmata kesedihan.
***
Setahun telah berlalu. Mamasuki tahun kedua aku berada di sekolahku. Aku menjalani hari-hariku seperti yang sebelum-sebelumnya. Meskipun aku mampunyai prestasi di intra sekolah, juara 1 di kelasku dan juara Umum di sekolahku, namun aku tak pernah memiliki prestasi dibidang ekstra. Hal ini membuatku tambah sedih pada diriku sendiri yang hanya bisa menurut dan tak bisa melakukan apa-apa.
Suatu ketika, aku di tawarkan oleh pak Hidayat, guru bahasa Arabku untuk mengikuti lomba pidato 3 bahasa tingkat kabupaten. Pidato bahasa Indonesia, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Aku mengiyakan tawaran dari guruku itu, dan iapun memberikanku konsep pidato yang harus aku hafalkan dalam lomba. Akan tetapi rupanya hal itu tidak memberikan respon positif terhadap tanteku. Sehingga itu membuatku pesimis.
Aku tidak mengetahui sebenarnya apa alasan yang pasti sehingga tanteku melakukan hal ini padaku. Padahal aku berusaha melakukan pekerjaan rumah dengan baik, mengurusi anaknya dan membantunya  kala tanteku membutuhkan bantuanku. Tapi tatap saja tanteku sama sekali tak mengerti dengan apa yang aku inginkan. Akupun mengundurkan diri untuk tak nmengikuti  lomba tersebut.
***
Guruku  datang menemui tanteku. Aku tak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Sewaktu aku mengundurkan diri dan memutuskan tak ingin mengikuti lomba pidato lagi aku tak mengungkapkan alsanku yang sebenarnya pada guruku. Aku hanya mengatakan bahwa kondisi badanku tidak sehat dan harus banyak istirahat. Tetapi kenapa guruku menemui tanteku. Apakah itu karena aku ?
Setelah guruku pamit, tante menghampiriku “Auliah, bereskan segera baju-bajumu” kata tanteku. Aku kaget mendengar ucapan tanteku dan akupun menangis.
“maaf  tante, apa salahku ? aku tak pernah memberitahukan semua ini pada siapapun. Termasuk pada pak Hidayat. Aku sudah menjelaskannya bahwa aku mengundurkan diri karena aku merasa kondisi badanku tidak memungkinkan untuk ikut lomba itu tante” kataku dengan derai tangis.
“sudahlah. Kamu telah membuat tante malu dihadapan gurumu. Sebelum kesabaran tante habis, cepat bereskan baju-bajumu” tambah tanteku
Aku memasuki kamarku dan membereskan baju-bajuku. Mengisi selembar demi selembar dalam tas usangku. Aku tak tahu akan kemana. Aku tak mau buat bapakku, kakakku dan adikku kecewa di kampung. Yang aku fikirkan sekarang, sebenarnya apa salahku sehingga aku di perlakukan seperti ini. Aku hanya ingin seperti mereka. seperti teman-temanku yang lain. Yang tak di batasi ruang bergaulnya. Tak dilarang mengikuti organisasi yang mendukung prestasi sekolahnya. Serta bisa berteman dan bermain dengan siapa saja. Tetapi tanteku tak pernah mengerti dengan semua itu. Dan tak pernah memberiku alasan yang pasti, tak pernah memberiku alasan yang masuk akal.
Aku pernah mengatakan kepadanya kalau aku bisa menjaga diri. Kalau aku bisa membedakan mana hal-hal yang tak boleh aku lakukan dan mana yang boleh. Tapi hal itu tak memberikan pengaruh apapun pada tante.
Dengan berat hati aku meninggalkan rumah tante dan pergi menemui salah seorang temanku, Atun namanya. Ku ceritakan padanya tentang apa yang aku rasakan selama ini. Iapun menerimaku denagn tangan terbuka dan tidak keberatan jika aku tinggal di tempatnya. Setelah dua hari tinggal di rumah Atun aku baru mengabari bapakku. Alhamdulillah bapakku menyetujuiku tinggal di tempat Atun. Ku ceritakan apa yang aku rasa selama ini pada bapak. Karena tak tahan lagi akupun menangis. Aku rindu pada keluargaku yang selalu mengerti dengan keadaanku.
Aku bersyukur Atun bisa menerimaku tinggal di tempatnya hingga aku lulus. Di tempatnya aku bisa mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah, akupun bisa ikut pada lomba  pidato 3 bahasa dan Alhamdulillah mendapatkan terbaik  2 tingkat provinsi.
Hingga saat sekarang akupun tak mengetahui dengan pasti alasan tanteku mengekangku dan selalu melarangku. Aku hanya ingin berprestasi di bidang ekskul, tidak untuk melakukan apa-apa di luar. Namun tanteku tak pernah mengizinkanku. Trimakasih tante selalu khawatir padaku dan aku berharap suatu saat aku bisa mengetahui alasan tanteku selalu mengekangku.
***SEKIAN***



Senin, 09 Februari 2015

Sudahkah Aku Bersyukur ???

Hari itu, aku pulang dari kampus sekitar pukul 4.  aku Jalan dari kampus ke kostan sendiri. Sebenarya jika tidak sibuk temanku yang sudah ku anggap sebagai kakaku selalu menyempatkan dirinya untuk menjemputku pulang. Tapi sore itu ia punya jadwal musyawarah dengan beberapa akhwat.

Tiba-tiba dari kejauhan mataku tertuju pada  seoarang lelaki yang berdiri di trotoar jalan. Aku tercengang. Memandangnya dengan sorotan iba. Ia begitu tenang menunggu mobil yang lalu lalang dihadapannya. Berbeda dengan beberapa mahasiswa lain di dekatnya. Mungkin  karena sudah lelah beraktivitas seharian dan tidak sabar untuk pulang. Jalan raya itu menjadi semraut kacau balau diiringi sahut-sahutan suara klakson kendaraan karena ketidaksabaran mereka untuk menyeberangi jalan. Sebagian bahkan dengan sangat jelas tidak sabar untuk menerobos kendaraan di depannya.

Masih di trotoar jalan, ekor mataku terus mengikuti gerak geriknya. Bermaksud agar ku bisa membersamainya untuk menyeberangi jalan. Tiba-tiba dia mengambil langkah cepat, berjalan menyalip motor dan mobil yang masih menumpuk di jalanan itu.
“Astagfirullah…” sahutku dalam hati.Ada rasa takut melihatnya  menerobosi jalan. Kalau saja dia bukan laki-laki aku telah menahannya.Alhamdulillah kulihat para pengendara mobil dan motor melambatkan jalan mereka. Rupanya mereka tahu bahwa yang lewat adalah seorang yang hanya punya satu kaki sehingga harus dimaklumi meski telah dibantu tongkat jalannya tetap saja tak secepat dengan mereka yang normal.

Ah, aku termenung…Kulihat beberapa orang juga memandangnya. Tak tahu apa yang ada dalam fikiran mereka. Samakah denganku ?Celananya yang hanya bisa terpakai sebelah kanan. Demikianpun sepatunya… dan tongkat disebelah kirinya. apa yang ia rasakan ????“Apakah penyemangatnya selama ini sehingga ia bisa sesemangat itu ? Apakah dirinya tak malu saat berhadapan dengan yang lain ? “Yah… kalimat-kalimat itu ingin ku lontarkan padanya.

Sesampaiku di kos. Aku menangis. Dan ku ambil laptop untuk menulisi kejadian itu. Kejadian yang kalian baca ini.wawa seberapa bersyukurkah dirimu Atas nikmat-Nya ? seberapa semangatnya dirimu menjalani hidup ? seberapa besar UjianNya padamu ??Astagfirullah……Robb… Ampuni atas kekufuranku atas nikmat-Mu. Berilah aku kesabaran dan menjalani Ujian dalam Hidup. Serta kuatkanlah pula hati laki-laki itu dalam menghadapi CobaanMu…!!!Aamiin ya Robb……………….. 


__Makassar-Selasa 9 Februari 2015__

Selasa, 20 Januari 2015

Gara-gara Nyontek


Aku duduk di samping wali kelasku. Kulihat ibu Ira duduk menunduk tanpa kata. Mutiara bening terjatuh dari matanya sesekali terdengar isak kala mendengarkan kata-kata wakil kepala sekolah. Aku tak tega melihat ibu Ira menangis, namun akupun kecewa pada apa yang telah dilakukannya.
Waktu itu ujian bahasa Inggris. ibu ira selaku guru sejarah, menjadi pengawas ujian di kelasku. Ia  memperbolehkan  kami untuk menyontek. Sungguh aku tak tahan melihat hal itu. Padahal sebelum-sebelumnya kami telah diberikan kisi-kisi soal untuk lebih mudah kami pelajari. Tapi teman-teman malah lebih suka menyontek daripada mengandalkan apa-apa yang telah mereka hafalkan.
Tak tahan melihat hal itu di kelas, aku mengerjakan semua soal semampuku kemudian cepat-cepat keluar meninggalkan kelas dan menuju kamar kecil. Aku  menangis tak tahu harus mengadukan hal ini pada siapa. Sungguh aku merasa ini tidak adil untukku.
Sebagai  siswa kami seharusnya belajar, untuk mendapatkan  pengetahuan sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan.  Entah itu saat latihan, ulangan ataupun ujian. Bukan malah menyontek, ataupun sejenisnya. Tetapi teman-temanku lebih senang diperbolehkan membuka catatan terkecuali aku dan 4 orang temanku.
Aku keluar dari kamar kecil. Tak sengaja aku bertemu wali kelasku, ibu Asiyah.
“Farah, apa kamu sakit” tanyanya saat itu.
“tidak bu, hanya sedikit Flu” jawabku menyembunyikan kesedihanku.
Aku tak mau jika aku mengatakan yang sebenarnya teman-temanku akan membenciku dan Ibu Ira akan marah kepadaku.
Selang sehari sejak peristiwa itu, aku lebih sering menyendiri, entah itu di kelas, perpustakaan, di kantin ataupun di taman sekolah. Ku  giatkan diriku untuk lebih banyak belajar, berharap nilaiku lebih diatas teman-temanku. sehingga mereka tahu tanpa menyontek kitapun bisa memperoleh nilai yang jauh lebih baik.
Aku sangat kecewa terhadap apa yang telah dilakukan teman-teman, terlebih pada Ibu Ira. Selaku guru, seharusnya ia tak membolehkan kami menyontek, membuka buku ataupun bertanya pada teman saat ujian. Karena  ujian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kami dalam memehami pelajaran yang telah diajarkan oleh para guru. Tapi ibu Ira  malah sebaliknya.
Seminggu berlalu.
“Farah, apa kamu sudah menerima hasil Ujian bahasa Inggrismu ?” Tanya  Dewi salah seorang temanku. Sejenak sesuana hening tanpa kata-kata, aku hanya bergeming mendengar pertanyaannya.
Angin berhembus, menerpa wajahku yang dibalut jilbab. Aku terus melangkah meninggalkan Dewi menuju ruang BP sambil menatap kertas yang ada di genggamanku. Sesampaiku disana, kutulis keluhkesahku dalam buku harian sekolah. Hingga butiran-butiran bening mengalir dipipiku yang tak dapat lagi kubendung.
Tragedi  itu akhirnya terungkap, ibu Ira mendapat panggilan dari kepala sekolah. Pada saat yang samapula aku didampingi bu Asiyah dipanggil menghadapnya sebagai saksi sekaligus korban. Rupanya mereka telah mengetahui ketidak adilan yang ku rasa dari guru BP yang membaca buku harianku.
Ku lihat ibu Ira duduk menunduk tanpa kata. Pasrah akan konsekuensi yang diberikan. aku memang menginginkan agar kejadian itu terungkap dan takkan terulang lagi, sehingga tiada yang merasa sepertiku.  Namun airmataku tiba-tiba jatuh,  ku tak menyangka semua akan serumit ini. Aku  tak bermaksud membuat ibu Ira  dikeluarkan dari sekolah.  Sungguh aku merasa bersalah, aku merasa berdosa.  Karena aku ibu Ira dimutasi ke sekolah lain. “Maafkan aku Ibu” bisikku dengan tangis.

***

Senin, 19 Januari 2015

~Andai Ku Bisa~


Aku adalah sebuah sungai kecil. Sungai yang berada sekitar 30 meter dari belakang rumah tempat tinggal wiwi.  Mungkin bagi sebagian orang, aku hanyalah sebuah tempat bermain untuk anak-anak, ataupun hanya sebagai tempat memancing, atau tempat untuk santai. tapi bagi wiwi aku lebih dari itu. bahkan baginya aku mengajarkan banyak hal.

Wiwi adalah pelajar di sebuah SMA yang cukup terkenal dikota itu. Setelah lulus dari sebuah sekolah Madrasah di kampungnya, masuk ke sebuah SMA terkenal adalah salah satu impiannya. Dan itulah yang dia rasakan saat ini.

Namun semua tak sesuai seperti apa yang di bayangkannya. Ia harus Berpisah dengan bapak, kakak dan adiknya di kampung dan harus tinggal bersama tantenya di kota tempat sekolahnya sekarang. Hal itu membuatnya seakan mengalami luka batin. Maklumlah Sejak kematian ibunya saat ia kelas 2 SD, ayah, kakak dan adiknyalah yang bersamanya setiap saat dan memberikan dukungan atasnya.

***
Sore itu, wiwi kembali menemuiku. Entahlah apa yang telah terjadi padanya. Namun dari raut wajahnya dia seakan sedang memendam sesuatu yang membuat hatinya terluka. Biasanya setelah bertemu dan berbicara padaku dia terlihat tegar dan baik-baik saja. Namun kali ini dia tak mengatakan apapun tetapi hanya menatapku dengan tatapan jauh hingga akhirnya menangis.

Andai aku dapat berbicara, ingin sekali ku ucap sepatah kata untuk menghiburnya, andai aku seperti manusia, ku ingin sekali memeluknya, ku ingin mengurangkan sedikit beban yang ada pada wiwi. Ku ingin menghapus air matanya dan menggantinya dengan tawa bahagia. Namun aku hanyalah sebuah sungai, yang tak dapat melakukan apa-apa selain menyaksikan kesedihannya. tapi  Entah apa yang menurut wiwi aku selalu memberikannya kekuatan.

***
Wiwi menghapus air mata yang membasahi pipi mulusnya. Kemudian memandangku dengan senyuman. Aku berfikir, mungkin tangisnya tadi telah membuatnya legah. Syukurlah… Karena setidaknya aku bisa dijadikannya tempat menangis. meskipun ku tak tahu hal apa yang membuatnya terluka hingga meneteskan airmata.

Wiwipun bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk pulang. Kini wajahnya tampak bahagia dan tak memikul beban apapun. Hanya saja, aku tahu. dibalik senyumnya yang manis itu sebenarnya ada luka, duka, lara, dan airmata yang mesih tertinggal, yang masih harus diobati hingga senyum yang ia keluarkan adalah benar-benar senyum bahagia penuh keikhlasan.

***
Esok haripun tiba. Tak seperti biasanya. Hari ini wiwi menemuiku dini hari. ia terlihat rapi mengenakan seragam sekolah. Ingin sekali ku berucap dan menanyakan  “ apa sebenarnya yang telah dia alami ? apakah kesedihan kemaren masih menggelayuti fikirannya?”
Wiwi menatapku dengan senyuman. Seakan dia mengetahui apa yang ingin ku tanyakan padanya.

“Sungai..! tularkan kekuatanmu untukku. Sungai..! tularkan ketabahanmu untukku.” teriak wiwi dengan tatapan dalam penuh makna. Tiga kali wiwi mengulang kata-kata itu kemudian pergi melanjutkan jalannya ke sekolah.

Di sekolah. wiwi seperti anak paling bahagia yang tak punya beban apapun, bagaimana tidak, selain cerdas, wiwi juga disayangi guru-gurunya karena prestasi yang ia raih. Itulah mengapa ia tak pernah membayar sedikitpun biaya sekolah berkat beasiswa prestasi yang diperolehnya.

Wiwi selalu merahasiakan apa yang selama ini di alaminya. Tekanan-tekanan yang setiap hari dialaminya membuatnya tak mau pengatakan pada siapapun selain pada ku. Sungai yang baginya memberi kekuatan.

Bel pulang berbunyi.
Seperti biasa Wiwi harus segera pulang ke rumah. Dan harus tiba sebelum jam 2. Itulah peraturan dari tantenya.  jika ia terlambat pulang maka ia harus menerima konsekuensi yang diberi tantenya apapun alasannya.

Tiba di rumah, wiwi mengganti seragamnya dan segera makan siang. Setelah itu ia mencuci piring dan kemudian menyetrika pakaian orang-orang di rumah itu. ia ingin cepat menyelesaikan tugas-tugasnya agar waktu istirahatnya bisa lebih banyak.

sekitar pukul 03.11 siang. Semua pekerjaan telah diselesaikannya. Wiwi bermaksud untuk istirahat dikamarnya. Namun belum sempat masuk ke kamarnya ia mendengar suara air tumpah dari bak kamar mandi. Segera wiwi pergi mematikan krannya. Terdengar suara omnya dari luar rumah, tepat di belakang kamar mandi  “siapa itu ? kenapa krannya di matikan ? cepat hidupkan kembali”. Segera wiwi menghidupkan kran ainya. Ia tak mengetahui kalau ternyata omnya sedang membersihkan selokan pembuangan air.
Karena beranggapan omnya masih membutuhkan air. wiwi meninggalkan kamar mandi dengan kran air terbuka dan masuk istrahat ke kamar.

Belum cukup 15 menit  terdengar tante berteriak “wiwiiiii…! Mengapa kamu tak mematikan kran air ? kamu tuli atau kamu pura-pura tak mendengarnya wi…? Kamu fikir pembayaran air gratis ? tinggal Cuma numpang, pekerjaan tidak becus.”
“maaf tante.. tadi aku sudah mematikannya. tapi kata om jangan dimatikan karena om masih menggunakannya di luar untuk membersihkan selokan” kata wiwi dengan maksud membenarkan diri.

Begitu mendengar alasan wiwi, tante lansung meninggalkannya. tiba-tiba omnya datang dan berkata “ ohhh.. bagus ya.. sekarang sudah berhasil buat om dan tante salah faham. Kamu Cuma numpang tidak sadar diri. Kalau bukan karena bapakmu aku tak suka ada orang malas tinggal di rumahku”
Wiwi menunduk diam menahan tangis saat mendengar kata-kata dari omnya.

***
Setelah shalat maghrib wiwi keluar dari rumah hendak menemuiku. Ia tak perduli meskipun saat ini malam. Setibanya, wiwi menangis sejadi-jadinya.

“sungai, aku belajar tabah, aku belajar kuat, aku belajar teguh dan aku belajar ikhlas dari engkau. meskipun banyak halangan dan rintangan yang datang padamu, kau terus mengalir maju dan tak pernah mundur. sebesar apapun rintangannya kau berusaha melewatinya, hingga akhirnya kau benar-benar bisa melewatinya” kata wiwi dengan tangisnya.
”namun aku tak seperti kamu. aku tak bisa sekuat dan setabah kamu. Mulanya aku mencoba. Namun kali ini, aku tak mampu lagi. Aku benar- benar tak mampu berada di antara mereka. karena Aku merasa keberadaanku tak diinginkan oleh mereka.” tambah wiwi

“sungai...! bawa aku pergi. Sungai…!!! bawa aku pergi. sungai…!!! tolong bawa aku pergi….!! Teriak wiwi dengan tangisnya.

Kamis, 18 Desember 2014

~~** DIA PENGGANTI IBU

“Duhai Hati, tabahlah dikau bersama kami dalam menempuh segala ujian Allah. Ingatlah kembali hadiah-hadiah yang kau peroleh dari Allah. Buka matamu seluas-luasnya. Semuanya milik Allah. Tak satupun punyamu. Semuanya hanyalah pinjaman dari-Nya dan bila masanya Ia bisa mengambil semua kapanpun Ia mau”
Sebait  tulisan yang ku baca dalam buku harian kaka. Tulisan yang selalu terngiang kala hatiku teringat akan bunda.

Waktu itu, aku baru kelas II SD, sedang adikku belum mengenyam pendidikan apapun. Bundaku yang kala itu telah sakit berbulan-bulan akhirnya menghembuskan nafas terahirnya di pangkuan ayah. Dan sejak saat itulah kakaku yang menjadi tempatku dan adikku mengeluh disaat bapakku tak berada di dekat kami.

Kaka adalah orang yang sabar menghadapi kenakalan-kenakalanku dan adikku kala kami banyak tingkah, mendidik kami dengan lembut tanpa kekerasan, mengajarkan aku saat ada tugas sekolah, dan membacakan kami dongeng kala tidur malam. Sungguh kaka menjadi pengganti ibu kami.

Walau  kakaku mengerjakan berbagai tanggung jawab rumah, namun kaka tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang siswa. kaka adalah siswa  berprestasi di sekolahnya. Bahkan Ia pernah memperolah juara satu saat mengikuti lomba cerdas cermat tingkat provinsi.

Setiap hari kaka harus bangun sebelum subuh, usai sholat subuh kaka lansung mengerjakan berbagai pekerjaan rumah agar tidak terlambat ke sekolah. Mulai dari Mencuci piring, menyiapkan sarapan,, dan menyiapkan makan siang nantinya kemudian disimpan di lemari makan. Karena setiap hari kaka pulang sekolah sekitar pukul setengah 2 siang. Pekerjaan itu tiap hari di lakukannya dengan ikhlas tanpa ada sedikitpun keluhan.

Pernah suatu ketika ayahku jatuh sakit akibat penyakit yang di deritanya. Waktu itu aku telah kelas  V SD dan adikku telah masuk SD. hampir setiap hari kaka ke sekolah selalu terlambat. Dan hampir setiap hari pula kakaku menerima nasihat dan masukan dari guru-gurunya.

“Sebagai kelas  XII seharusnya kamu lebih memfokuskan dirimu untuk menghadapi Ujian nasioanal, jika tidak jangan menyesal jika kamu tidak lulus” kata bu Elis wali kelas kakaku.
Mengetahui hal itu, aku mulai membantu meringankan pekerjaan kaka. mulai belajar mencuci piring lalu menyapu rumah dan halaman. Aku tak bisa membayangkan seberapa capeknya kaka yang selama ini mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku saja hanya menyapu halaman sudah merasa badanku begitu pegal.

Memasuki hari kaka Ujian nasional. Waktu itu aku bangun terlambat. Saat bangun, kaka telah berangkat ke sekolah. Aku tak mengerjakan tugasku. Ku lihat di atas meja telah ada sarapan untuk bapak, aku, dan adikku. Ku lihat dapur, semua telah kaka bereskan dengan rapi. Kubuka RiceKooker. Nasi telah masak. Ku lihat lemari makan lauk untuk siangpun telah ia siapkan.

Segera aku masuk ke kamar dan membangunkan adikku agar sarapan dan siap-siap kesekolah. Ku lihat seragamku dan seragam adik telah kaka siapkan. Ku dapati ada sebuah pesan dari kaka yang ditulisnya di sobekan kertas.

“dek,  jangan lupa setelah makan siang nanti piringnya segera dicuci. Usai sekolah kaka tak lansung pulang karena ada belajar tembahan di Rumah guru”

Aku menangis membaca pesan kaka. meski kaka sedang ujian, kaka masih bisa mengatur waktunya untuk mengurusi kami. Aku berdoa semoga kaka mendapatkan nilai terbaik dalam ujiannya. Akupun bertekat akan membahagiakan kaka, adik dan ayahku.

___SEBUAH ISYARAT___



Hasih ibu, kepada beta…
Tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi….
Tak harap kembali…
Bagai sang surya menyinari dunia…

Itulah lagu yang setiap kali ku nyanyikan, tak bisa kutahan airmataku. mengalir deras, membasahi pipi mulusku. lagu yang mengingatkanku kenangan terakhir bersama ibu saat 13 tahun silam. lagu terakhir yang dinyanyikan oleh ibu sebagai pengantar tidurku.

Hingga saat ini aku tak tahu, seberapa ikhlaskah diriku merelakan kepergian ibu. Aku tak tahu itu. Setiap kali aku mengenangnya selalu dan selalu  rasa sesak menghampiriku. dan butiran beningpun tak bisa ku elakkan dari mataku. Selalu dan selalu rasa sesak itu meninggalkan sakit yang tak bisa ku ungkap dengan kata-kata.

Aku tak bisa mengingat secara  pasti bagaimana kenangan-kenangan   terakhirku bersama ibu. Tak bisa mengingat dengan jelas memory  indah saat ibu masih bersamaku. Namun ku coba kumpulkan secuil demi secuil ingatanku untuk menuliskan apa yang selama ini ku rasakan.

sekitar 13 tahun lalu sebelum kematian ibu. Ibu adalah sosok ibu rumah tangga dan wanita karir yang selalu membuatku bangga. Perempuan  kuat yang selalu ada dan selalu memberikan semangat pada ayah. Dulu ayah adalah seorang kepala desa di kampungku. Sedang ibu adalah seorang ketua PKK.

Selang  dua tahun ayah menjabat sebagai seorang kepala desa. Ibuku jatuh sakit.  Entahlah, Aku tak tahu penyakit apa yang di derita ibu kala itu. wajah dan seluruh tubuh  ibu berubah menjadi kuning   dan membengkak. berdasarkan pemeriksaan dokter, Ibu terkena komplikasi penyakit liver, ginjal, jantung dan lambung.

Pada waktu itu aku telah menduduki kelas I sekolah Dasar.  Kira-kira umurku sekitar 5 tahun. Satahun  lebih mudah dari teman-temanku.   Saat  itu aku sama sekali tak pernah berfikir ibuku akan cepat meninggalkan aku.

Setahun telah  berlalu. Namun  ibu belum juga sembuh dari sakitnya.  Penyakitnya tambah parah,  tadinya wajah dan tubuhnya berwarnah kuning berubah menjadi hitam bahkan  ada  bagian-bagian tertentu yang  terkelupas seperti orang  terbakar hidup-hidup. Dokter bilang  ibu tak ada lagi harapan untuk hidup.  Saat  itupula ibu dipulangkan dari rumah sakit dan dirawat di rumah nenek,  dengan mengandalkan ramuan-ramuan herbal.
Benar  saja  Usia   ibuku  tidak  lama. Setelah seminggu dipulangkan dari rumah sakit. Ibu meninggal dunia. Jeritan tangis dan histeris dari sanak saudara terngiang di telingaku. Tak menyangka ibu benar-benar pergi meninggalkan aku untuk selamanya.

“ Wah, ibumu telah meninggal, Ayo lihatlah untuk yang terakhir kalinya sebelum ia dimakamkan !” ajak nenekku.
“nggak mau. wawa takut. Wawa nggak mau” teriak aku yang pada saat itu menganggap bahwa yang terbaring  itu bukanlah ibuku.
Aku sama sekali tak mengenali ibu lagi. Wajahnya yang hitam membuatku takut untuk mendekatinya.
“ayolah wah !” nenekkuu lalu  menarik dan menggendongku mendekati ibu.
“wawa nggak mau…. Wawa nggak mau… itu bukan ibuku… itu bukan ibuku” teriak aku di pelukan nenek.
Meskipun aku telah berada di samping ibu. Aku tak mau melihat mayat ibu. Mataku terus ku tutup dengan rapat dan tak mau membukanya, sampai ke tempat pemakaman.

“ibuu…….. ibuuu…… ibuuu……ibuku jangan dimasukan ke dalam……” kalimat itu tiba-tiba terucap ketika ku buka mataku.  Aku  memberontak dari gendongan nenek yang sedari tadi terus memelukku. Secepat kilat bapakku mengambilku, dan menenangkanku.
seminggu sejak ibu meninggal. Ada hal lain yang ku rasa.  Ada   hal yang berbeda dalam setiap aktivitasku. Ibuku yang setiap hari mengurusiku. Kini bapakkulah yang mengganti posisinya.

Saat tidur aku selalu menangis mengingat ibu. Mengingat lagu terahir yang di nyanyikan ibu untukku.  Ku coba bernyanyi sendiri lagu kasih ibu untuk mengingat wajah ibu dan kebarsamaanku dengannya. Namun belum selesai lagu itu ku nyanyikan airmataku telah deras membanjiri pipiku. Aku   baru   menyadari   ternyata dulu ibu telah mengisyaratkan kepadaku.

Waktu itu,  sebelum ibu meninggal ia selalu bertanya “ Wa  jika suatu saat  ibu meninggal kamu tinggalnya sama siapa ?” hampir setiap malam saat ibu menidurkan aku kalimat itu  tak pernah alfa keluar dari mulutnya.

Mendengar pertanyaan ibu aku tak pernah menjawabnya. Aku selalu lansung memeluknya jika mendengar kata itu. Aku   tak mau  ibu meninggalkan  ku.  Aku  masih  terlalulu dini,  masih  butuh kasih sayang,  masih perlu didikan, dan perlu perhatian dari seorang ibu.

Kini pertanyaan ibu telah terjawab. Mengapa dulu ibu selalu menanyakan itu kepadaku. Tak lain  agar aku siap jika ibu  tiada lagi  dari sisiku. Namun sampai saat ini, aku tak bisa. Aku masih tak siap. Aku masih belum ikhlas. Aku masih ingin merasakan bagaimana kasih sayang dari seorang ibu yang dulu belum sama sekali ku ketahui. Aku sama sekali tidak mengingat masa-masa indah bersama ibuku dengan jelas, ia samar, ditutupi kabut.

Kadang timbul fikiran anehku. Andai saja aku bisa menelpon ibu di alam sana. Akan ku kumpulkan semua uang jajanku untuk membeli pulsa sebanyak-banyaknya. Agar bisa  lebih lama bercerita bersama ibu. Akan ku bangun tower untuk menguatkan jaringan agar suara ibu bisa jelas terdengar. Namun semua itu lagi dan lagi hanyalah anganku.

kadang  aku juga masih iri pada mereka-meraka yang menceritakan kisah-kisahnya bersama ibu. Menangis  jika mendengar kisah tentang ibu dari teman-teman ibu….!!!! Aku mengenal sosok ibu dari sahabat-sahabatnya. Mengetahui hal-hal yang di sukainya, hal-hal yang dibencinya dari teman dan sahabat ibu.

Pernah timbul fikiran negatifku beranggapan Allah tidak menyayangiku, Allah tidak menyayangi  ibu sehingga kami terlalu cepat dipsahkan dan tak bisa lagi aku menemuinya . Namun  ini bukan  karena Allah tak menyayangiku atau tak menyayangi ibu. Sebaliknya Allah sayang. Karena kami telah berada di alam yang berbeda. Alam yang tak bisa ku lihat dengan mataku.

“ibu…. Aku hanya bisa mendoakan mu selalu dalam setiap sujud-sujudku. Aku hanya bisa memberikan baktiku lewat sahabat-sahabatmu. Semoga kelak kita benar-benar bertemu tanpa ada hijab yang membatasi… ibu….. aku menyayangimu”