Sabtu, 13 Desember 2014

~Teruntuk yg Mencintaiku~





Teruntuk engkau yang mencintaiku...
Ketika kau masih tak mampu menghalalkanku...
Ijinkan aku berbicara tentang cinta padamu...

Wahai yang mencintaiku karena-Nya...
Sesungguhnya kata-kata cintamu
tak menjadi mata air yg jernih dipadang pasir
di tengah sahara hatiku...
Tetapi justru menjadi percikan api
yg setiap saat mampu membakar diriku..
Membakar rindu yg seharusnya untuk Rabb-ku..
Membakar cemburu yg seharusnya untuk Rabb-ku..
Membakar semangat yg seharusnya hanya karena Rabb-ku..

Wahai yang mencintaiku karena-Nya...
Ungkapan perasaanmu tak membuat bunga-bunga di taman hatiku merekah.. 
Tetapi justru membuat bunga itu layu sebelum mekar.. 
Duri-duri bunga itu seketika tumpul.. 
Lemah dan tak mampu lagi melindungi sari bungaku...

Wahai yang mencintaiku karena-Nya...  
Sungguh kata- kata cintamu setajam pedang yg siap menebas apapun...
Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas apapun...
Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu menebas nafsu ...
Dan gejolak hati yg kini meresahkan jiwamu.?

Wahai yang mencintaiku karena-Nya...
Aku bukan malaikat yg tak punya hawa nafsu..
Aku hanya manusia biasa yg juga menginginkan cinta ..
Kehadiranmu memang mampu memberi sebuah warna ..
Sungguh itulah yg membuatku tersiksa..
Bukan aku tak mampu menghargai yg kau rasa.. 
Tapi sungguh bukankah aku akan gagal
mempertahankan hatiku yg selalu ingin terjaga..

Wahai yang mencintaiku karena-Nya... 
Tidak-kah kau ingin cinta itu sesuci cintanya ali dan fatimah...
Dalam diam ia mencinta..  Dalam rindu ia ber do'a..
Jika karna cinta kau mampu menjadi seorang pujangga..
Tidak-kah kau ingin  mempersembahkan  cintamu yg sesungguhnya
pada Allahu Rabbi....
Tak tahu-kah kau bahwa cemburunya teramat luar biasa.?

Wahai yang mencintaiku karena-Nya...
cinta sejati bukanlah yg menyakiti...
Tapi taukah engkau 
perasaan cinta yg kau bilang tak bisa terdiam terlalu lama...
Tapi bisa kau halal-kan dengan segera..
Sesungguhnya menyakiti jiwaku..
Melalaikanku menjadi seorang hamba..
Dan mendekatkanku pada angan-angan semu yg seharusnya tak boleh ada ..

Wahai yang mencintaiku karena-Nya...
Renungkanlah...
 Tak ada kebahagiaan yg sesungguhnya kurasa saat ini..
 Yg ada hanya kesibukan untuk selalu membenahi diri...
 Tak ada kata terlambat untuk segera memperbaiki...
Simpanlah cintamu hingga Allah memutuskannya nanti. . . . .



  

~Dikira Anak SMP~

siang tadi, aku dan seorang temanku pergi ke sebuah majelis ilmu. tempatnya lumayan jauh, kami harus menempuhnya dengan 2kali berganti pete2 kemudian dilanjut dengan bentor....

setelah menaiki pete2 kedua, kami memilih berhenti lalu menelusuri jalan kearah gang untuk mencari bentor.
cukup jauh kami berjalan, "wadduh,,,,!!!"  kami tak menemukan pangkalan  bentor, bahkan satupun tak kami dapati..
ah, rupanya kami terlalu cepat menghentikan pete2nya, dan gang yang kami masuki itu bukan jalan yang  sebenarnya harus kami melewati.

kami memutuskan naik pete2 lagi. setelah menyeberangi jalan, alhamdulillah sebuah pete2 berhenti tepat di depan kami, owww... ternyata ada penumpang yang turun... setelah si penumpang memberikan uang pada si pak supir, temanku segera naik..
pete-petenya jalan...!! aku hampir saja ditinggal,,, temanku hampir jatuh karena belum sempat duduk...
alhamdulillah ada seorang ibu cepat2 memberitahu si pak Supir,,
"tunggu...! ada anak SMP mau masuk"
akupun masuk dan duduk tepat disamping ibu tadi.

"SMP Wahdah ki?" tanya ibu itu dengan logat makassarnya,
aku tersenyum mendengar pertanyaan itu, belum sempat ku jawab ibu itu bertanya lagi, kelas bgerapa ?
dengan Senyum termanisku, akupun menjawab pertanyaan menggelitik itu...
"maaf ibu, kami mahasiswa, sekarang sudah semester 5"
setentak penumpang dalam pete2 tertawa karena merasa lucu.... 
"maaf nak, kata ibu itu dengan malu-malu....

Jumat, 12 Desember 2014

Disaat yang Tepat pada Orang yang Tepat




aaaaa... teriakan itu hanya bisa terngaung dalam sanubari...
hmmmmm... jikalau bisa, mungkin sejak kemarin telah kulakukan.
sayangnya pita suaraku terhalang oleh sekat yang akupun tak tahu apa namanya...
sedihkah ??? marahkah ??? malukah ?????
berkali kali ku putar otakku agar ku temukan jawabnya,
namun berkali-kali pula kebimbangan menghampiriku. . .
ah,,,, rasanya ingin ku buat cangkang sendiri dan menghilang bak jini oh jini
hingga kini,,, kejadian itu masih terekam jelas...
ooooohhhh "tidak, ini hanya mengotori hati..." astagfirullah……….

kemarin aku terdiam diantara para tawa yang mencemooh cinta. ku hanya bersenandung dalam qalbu, menikmati tawa diatas realita godaan.
marah ??? hehe.... untuk apa marah ?? sedih, apa yang harus ku sedihkan ?? malu ??? ah,, tak tahu..
aku tak marah pada ustadzku, jua tak marah pada teman-temanku,
itu candaan kan..? yah berkali-kali otakku meyakinkanku bahwa itu candaan....
tapi bagaimana dengan hati ??? ia bahkan berbalik dengan fikirku,
bak pemain antagonis dan pratagonis.
" jebakan" ???? yah itulah frasa yang dikatakan hatiku
lalu..... kalau ini jebakan, untuk apa ??
sementara mencari alasannya, aku mengingat perkataan seseorang “Terjebak itu lebih baik dari pada melompatinya, sebab bila terpenjara dalam frasa berpedang lebih baik, daripada memecah aksara perlawanan yang hujamkan takdir hingga berakibat penyesalan.”

Bagaimana tidak, sedang aku masih menatap lembaran makalah ditanganku, tiba-tiba terdengar kalimat dramatis yang seolah telah direncanakan
" wa, mau bertanya pada si......? " pertanyaan dari ustadz mengagetkanku. Aku rasa semua temanku menjadi bersemangat mendengarkan kalimat itu. mereka yang tadinya ingin cepat-cepat mengakhiri pembelajaran, berganti enggan beranjak.
kenapa bertanya pada "dia" bukankah ia bersama teman kelompoknya ???
"Cieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee" serentak kawan-kawanku mennggodaku, OMG,,, godaan itu tak bisa ku elakkan..

Aku mencoba terus menyulam senyum diatas koyakan godaan mereka, meski saja kian melebar diantara kainnya, tapi aku tak ingin tampak marah.
Alhamdulillah, suasana kelas kembali tenang mendengarkan satu demi satu penjelasan ustadz.
Mataku jenuh, sesekali tatapan mata kosong. Baginya mungkin ini adalah sebuah kenikmatan yang ditemani berjuta angan hingga tampak ketiadaan bagi para pencemooh.
Bersama angin yang mengundang Tanya, otakku menangkap suatu kesulitan, namun hatiku terus saja melompat kegirangan. Gambaran indahkah ini semua? Atau hanya tampak penghiburan semata saja? Ah, Tampaknya sangat asing bagiku yang tak pernah menyelami dalamnya makna…

“ehm.. ehm…” “ Cieeeee….” Sorak kelas dipenuhi lagi kekacawan canda teman-teman, Sebenarnya pembelajaran akan segera diakhiri, namun tetiba ruangan itu dihebohkan dengan pertanyaan kawan lelakiku… “bagaimana menggunakan “kinayah” untuk mengungkapkan perasaan hati seseorang ?”


Hari itu Sedikit aneh bukan???
Yah, bagiku aneh…. Ditambah karena jawaban ustadzku mengundang berjuta tanda Tanyaku..
iiiii…. Lagi-lagi ustadz menjawab pertanyaan itu dengan menjadikan “dia” dan aku sebagai contoh.
Bagaimana ruangan ini akan tenang ?? bahkan bagiku ini mengalahkan gaduhnya pasar sentral…
“afwan ustadz, mungkin yang dimaksud bukan diriku tapi orang lain yang bernama sepertiku” kataku membela diri,
“tapi bagaimana kalau yang dimaksudkan adalah kamu ????” ustazdku menimpali pertanyaan balik.
“Duk…” mendengar pertanyaan itu, detak jantungku memompa jauh lebih cepat dari sebelumnya. Kaki dan tanganku tetiba menjadi dingin, ku terdiam Mencoba menyandingkan kesempurnaan dari setiap inchi majas bahasa lughah, mungkinkah ini takdirnya balaghah ? Menghinggap di setiap tempatku berpijak, hingga khayalnya pun menjadi kenyataan. karena langit mampu menghembuskan nafas sendunya dan membuat ustadzku, kawan-kawanku bahkan semesta alam berdoa…….

Hmmmm….. ku ingin berlari menjauh dan berlindung dibalik awan..... karena tak ingin berlama-lama berada dalam ruangan ini. bersembunyi dan mengumpat serta mencaci dibawah kerimbunan pohon. Hingga membuatku melakukan perjalanan kembali mencari arti yang bersembunyi diantara rerumputan.
Lantas, jika terus bersembunyi, bagaimanakah aku dapat mengerti arti kehidupan ini? bila saja segala sesuatu yang kupersembahkan tiada sebanding dengan apa yang mereka berikan. Apa yang akan mereka katakan ?? Mungkinkah ku harus menggali sebuah tanah untuk menemukan makna? Atau mungkin membangun sebuah istana untuk menyenangkan hati seorang Raja?
Aaaahhhhhh….. itu sulit bagiku….

Bagaimana dengan “Dia” ?????
Runtuhnya tiang penyangga yang berdiri kuat disisi pelataran hatinya, sebuah pilar yang kuat, membawa raga selalu menumpahkan rasa tak enak. Haha… tak enak ???? ah, aku tak tahu. *~
Memang telah tertulis, bahwa karang dilautan takkan tergoncangkan, sekalipun tsunami menghantam dan memberi kehancuran. Tapi, aku tetap yakin, walau tak setegar batu karang, hati yang bernafaskan cinta takkan pernah usang.

Pembelajaran berakhir…..
Kubiarkan teman-temanku meninggalkan ruangan terlebih dahulu… tanpa ku tahu iapun berlama-lama ada diruangan itu… ustadzku yang nyaris masih ada diruang yang sama menyuruhku memberikan absensi pada “dia”
Bukankah “dia” ada diruangan itu pula ? mengapa tak ustadz berikan lansung. Hatiku berbisik…
“Modussssssssss” aku menutupi wajahku dengan jilbab… dan seraya meninggalkan ruangan.
“hati…… hati….. astagfirullahal adzim… tenanglah…..
Aku tak tahu yang dirasakan hati saat itu. jelasnya aku ingin segera sholat.

Setibaku di Mushollah….
“????” sesuatu yang aneh kembali menyapaku, mengapa pembahasa ta’lim mengenai masalah jodoh, sholat istikharah, menikah…
Oooh….. tanda apa ini ???? Ku tahu ini tidak hanya kebetulan karena sang Maha Rahman telah mengatur semua skenarionya, tapi bukankah ini aneh……
Yah… aneh, aneh…. Sungguh aneh……………
Ku tenangkan hati… dan kumulai sholat Asharku…..
Alhamdulillah…… telah lebih baik….

Bila ku mampu berkata pada “Dia”, mungkin akan ku katakan “jangan kotori hatiku, jangan pula kau kotori hatimu, Meski dirimu dan waktu tertatih menopang jiwa yang telah lesu, tapi ingatlah akan Janji Allah… “Allah akan menetapkan semua diwaktu yang tepat pada orang yang tepat”
Maka, tepatkanlah dirimu, luruskan niat, perbaiki pula ikhtiarmu, istikhara dan berdoalah …. Maka kau akan dipertemukan oleh orang yang tepat. Siapapun dia…

Namun jangan pernah menyerah, dan putus asa hanya karena belum kau temui jawabnya, Jika saja engkau menyerah, tentunya engkau kalah. Dan semua sia-sia bukan ???
Tetaplah bertahan, tetaplah seperti itu, dan Biarlah senja kemarin menutupi kisah itu……

Jumat 12 Desember 2014




Sabtu, 06 Desember 2014

~Bila SaatNya Tiba~


Farah menyeka air matanya yang masih mengalir di pipinya, ia berusaha menegarkan dirinya yang sejak tadi malam lemas karena terlalu banyak nangis. Berusaha menguatkan dadanya yang terasa sesak akibat kata-kata  dari kakaknya, Nurma. 

Farah adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia anak yang cenderung pendiam, dan penurut. namun sewaktu-waktu ia akan membantah jika ada orang yang ia sayangi tersakiti. Sifatnya sungguh jauh berbeda dari kedua saudaranya. Sejak kematian ibunya, membuat dirinya selalu tertutup pada siapapun. Termasuk pada ayahnya ataupun kakaknya. Ditambah saat bapaknya memutuskan untuk menikah lagi, saat itu pula ia seakan menyiman luka batin yang entah seberapa dalamnya. Berbeda dengan Farah, Nurma adalah tipe orang yang keras. Itupula sebabnya murud-muridnya di sekolah ada yang menakutinya. Dan Sifat itu pula yang ada pada diri Indah adiknya.

Malam itu, sekitar jam setengah sepuluh Farah masih mengerjakan tugas Kuliahnya yang akan ia presentasikan besok. Tiba-tiba hp berdering “Trimakasihku pada-Mu tuhanku tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata hanya diri-Mu yang tahu besar rasa cintaku pada-MU…….” sebuah lagu berjudul Takkan Berpaling dari-MU yang dilantunkan oleh Rossa. menandakan ada panggilan masuk untuk Farah. Farah segera mengangkatnya.

“halo, Assalamualaikum ?” jawab Farah. Rupanya itu panggilan dari kakaknya.
“waalaikumussalam, gimana kabar dek. lagi sibuk ?” Tanya kakaknya
“Alhamdulillah aku sehat-sehat. Kalo kaka bagaimana kabar ?. Sebenarnya aku lagi ngerjain tugas, tapi dikit lagi selesai kok” jawab Farah
“kaka juga Alhamdulillah sehat. Kaka nggak ganggu ?” Tanya kakaknya Lagi
“enggaklah ka, tumben kaka nelponnya larut, biasanya setelah isya. Oh iya, bagaimana kabar bapak sama adik di kampung ? sehat-sehat kan ?” Tanya Farah.

Nurma membuka pembicaraannya, mulai dari menjawab pertanyaan Farah yang menanyakan kabar Bapak dan adiknya lalu bercerita tentang keadaan kondisi keluarga, agenda-agenda mengajarnya di sekolah, hingga pada kegiatan-kegiatan organisasinya. Tak terasa perbincangan mereka telah berjalan satu jam hingga menunjukan pukul setengah sebelas.
“Farah,,,,?”
“iya ka ? ada apa ?”
“kaka benci sama bapak. Kaka jengkel bangat, kenapa sih semua yang ia katakan harus dituruti” kata Nurma dengan sedikit tangis agar mendapat simpatik dari Farah.

Farah terkejut mendengar apa yang kakaknya katakana. “Ya Allah kak, kenapa kaka ngomong gitu ?  kaka maklumi aja, bapak itu sudah tua, orang tua memang harus dimengerti, kalau bapak dan kaka sama-sama keras entar jadinya bukan memperbaiki suasana tapi malah menambah masalah” tegur Farah pada kakaknya
“kamu nggak ngerti apa yang kaka rasa Farah, dari dulu kaka udah ngikutin apa yang bapak katakan. Dari dulu kaka turutin semua apa yang bapak mau, sejak SMP hingga kaka kerja sekarang, semuanya berjalan sesuai apa kemauan bapak. tapi bapak sama sekali nggak mau ngerti dengan apa yang kaka mau, pokoknya apa yang kita lakukan harus melalui persetujuannya. Bosan juga hidup seperti itu Farah, Hidup  begini hanya seperti boneka” kata Nurma dengan nada yang kedengarannya sangat marah

Farah terdiam, dalam hatinya Ingin menangis. Tak menyangka kakaknya yang ia kenal faham akan agama bisa berkata seperti itu. Tak disangkanya kaka yang selalu menasihatinya mengeluarkan kata-kata yang seperti itu. Tanpa disadari airmatanya jatuh membasahi lembaran-lembaran tugasnya yang belum ia rapikan . “ya Robbi… ampunilah kakaku” doa Farah dalam diam.

“Rah, kenapa kamu diam ? apa kamu nggak bosan hidup seperti Boneka yang selalu diatur ?”
“Astagfirullah kak, mengapa kaka bicara seperti itu, apa kaka nggak sayang sama bapak ? apakah yang selama ini kaka telah lakukan adalah keterpaksaan ? kaka harus sabar, bapak melakukan itu bukan hanya untuk dirinya tapi demi kebahagiaan kita juga” kata Farah dengan menahan suara tangis agar tak diketahui kakaknya.
“aku nggak bisa sesabar kamu Farah, aku nggak setegar kamu yang selalu bisa melakukan apa saja untuk orang lain, padahal hati ini tersiksa, cukuplah sudah yang kemarin-kemarin,”
“ka… aku memang nggak pernah tahu apa yang kaka rasakan, dan akupun nggak tau apa yang bapak rasa. namun aku akan berusaha untuk mengerti kaka ataupun bapak. aku nggak mau terjadi kesalahpahaman antara kaka dan bapak, karena keduanya adalah orang yang aku sayangi. Namun, cobalah kaka ikhlas menjalankan semua itu, bukankah kaka selalu mengatakan kepadaku bahwa apapun yang kita lakukan tanpa ada niat yang ikhlas maka hasilnya tetap nol ?”

Farah berusaha memberikan nasihat-nasihat pada kakaknya. Yang sebenarnya iapun butuh nasihat itu. Berusaha meredam emosi dan kebencian kakaknya pada bapaknya. Berusaha agar apa yang ia sampaikan tidak membuat kakaknya tersinggung dan merasa ia lebih berpihak pada bapaknya. Mulai dari kata-kata mutiara, hingga hadits-hadits dan ayat yang menjelaskan tentang keutamaan dan hikmah tentang kesabaran dan berwirul walidain.
“kak, bukankah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah 286 menjelaskan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melebihi batas kesanggupannya ? dan bukankah pula dalam surah Asy-Syarh ayat 6 dikatakan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu akan ada kemudahan ? kak, seharusnya apa yang kaka hadapi sekarang itu menjadikan kaka lebih tegar. Seharusnya kaka bersyukur, belum tentu semua orang mampu menjalani hidup seperti apa yang kaka rasakan. Mungkin ada di antara orang-orang yang dikala mereka tak mampu lagi mereka mengambil jalan buntu hingga bunuh diri. Tapi seharusnya kaka bersyukur karena Allah masih memberikan nikmat keimanan sehingga niat itu tak pernah ada di fikiran kaka. Percayalah kak. Karena tak semua kado yang terbungkus dengan indah dalamnya adalah kebahagiaan, tapi adakalanya kado yang bungkusnya mungkin biasa saja, namun subhanallah isinya selalu ada berkah, begitupula ini.. pasti semuanya akan indah pada waktunya kaka. ”

Walaupun Farah sudah memberikan nasihat-nasihat panjang lebar namun kakaknya masih merasa kalau hidupnya hanyalah seperti boneka. Ia berfikir walaupun ia berusaha ikhlas dan bersabar ia akan semakin merasa tersiksa batin.

“iya farah, kaka tahu semua apa yang kamu bilang itu, kaka mengerti dengan ayat-ayat itu, makanya kaka ingin pergi dari rumah ini untuk mencari pengalaman dan bisa lebih banyak belajar lagi tentang hidup. Belajar arti kesabaran dan keikhlasan. Tapi  bapak melarang hal itu. emang apa yang salah”
“kak, kaka nggak salah, justru sebenarnya itu bagus. Namun seperti apa yang aku katakan dari awal kalau bapak sudah tua, ia ingin kita lebih memahami dan perhatian padanya . bukankah disaat seperti itu ladang pahala terbuka untuk kita mengabdi pada orang tua kak. Apa salahya untuk mengikuti perkataan bapak, lagi pula itu bukanlah hal yang penuh dengan kemudhoratan” jelas Farah

Walaupun Farah telah susah payah dengan segala pengetahuan yang ia tahu telah disampaikannya dengan cara ahsan, tetapi lagi-lagi kakaknya masih saja tidak menerimanya. Masih saja menganggap hidupnya selalu di atur seperti boneka berby.
 “kamu tuk tak pernah mengerti apa yang kakak rasakan. Katanya mau mengerti kaka, Tapi apa ? kamu tak pernah tahu seberapa besar luka dan derita ibu dan aku saat kamu masih kecil. Kamu nggak pernah tahu bagaimana rasa sakit ini melihat perlakuan bapak ke ibu. Kamu nggak pernah tahu itu. Bapak yang selama ini kamu sayangi dan kamu bela ternyata adalah orang yang kasar dan suka menyakiti ibu. Bapak yang kamu hormati ternyata adalah orang yang egois. Sejak ibu masih hidup ibu selalu menuruti apa yang bapak katakan. Kalau ibu tidak menuruti apa yang bapak katakan maka pertengkaranlah yang akan terjadi, kamu tak pernah melihat moment seperti itu Farah. Jadi kamu jangan heran kaka benci sama bapak”

Mendengar apa yang Nurma katakan Farah hanya bisa menangis. Ia tak dapat menahan suara tangisnya, hingga air matanya kian deras membasahi wajah mulusnya. Disatu sisi memang benar, ia tak pernah tahu apa kejadian dimasa lalu antara ibu dan bapaknya. Namun disisi lain Farah tdk mau menbenci bapaknya hanya karena kata-kata kakaknya. Bagi Farah masa lalu adalah sebuah pelajaran agar seseorang bisa memperbaiki dirinya dimasa depan.

“Kak, bagaimana bisa sebenci itu pada bapak, Orang tua satu-satunya yang kita punyai sekarang ? bagaimana bisa kaka membenci Bapak yang selama ini telah membanting tulang hingga kita besar seperti sekarang ini ? Bagaimana bisa kaka membenci bapak yang telah merawat kita saat ibu tiada ? kenapa hal itu bisa terjadi kak kenapa. Apakah kata-kata kaka tadi cukup sebagai alasan ?”

“Kamu nggak pernah ngerti Farah, kamu sama sekali nggak ngerti. Karena Kamu adalah satu-satunya anak kesayangan bapak diantara kita bertiga. Kita berbeda Farah. Dari dulu kita memang telah berbeda. bapak selalu menuruti apa yang kamu mau. sedangkan kaka dan Indah ? sebaliknya, kami yang selalu menuruti apa yang bapak mau. Jujur Aku iri padamu Farah. Kenapa hanya kamu yang jadi anak kesayangan Bapak ? kenapa kamu ? sejak lulus SD kamu selalu disekolahkan di sekolah-sekolah favorite di kota. Sementara lihat Indah. sekarang Indah mengikuti jejakku melanjutkan sekolah di Kampung. Dan sekarang kamu pun Kuliah di perguruan tinggi yang dibilang Ngetop di Indonesia. Kalau kamu bukanlah anak kesayangan kenapa hanya kamu yang di bedakan seperti itu. kenapa Indah tidak disekolahkan di sekolah top seperti kamu, namun ia menginguti jejakku.? Jujur akupun membencimu. Indah itu adik kita, Kamu telah merebut semua perhatian Indah dari bapak.” kata Nurma sebelum mematikan telepon pada Farah.

“dukkkkkk….” Mendengar semua keluh dan kesah Nurma membuat Farah bah ditindih gunung besar. Ia tak bisa menerima apa yang dikatakan oleh kakaknya. Apa yang Nurma katakana sangatlah jauh dari apa yang ia rasakan. Seandainya Nurma tahu kalau sebenarnya iapun merasa bapak selalu mengatur hidupnya, namun fikiran-fikiran itu telah lama ia hilangkan agar apa yang dilakukannya semua penuh dengan ketulusan. Kata-kata kakaknya membuat ia kembali mengingat memori perih pada masalalunya setelah lulus SD. Saat itu ia melanjutkan pendidikan di kota. sehingga harus berpisah dengan bapak, kakak dan adiknya di kampung dan tinggal di rumah tantenya. Sungguh itu tidaklah mudah. Meski memang ia menginginkan sekolah di kota, namun sebenarnya ia tak menginginkannya bila harus berpisah dari bapak, kakak. Dan adiknya,

Rupanya Nurma telah salah memaknai derita yang di alami Farah. Nurma telah salah memaknai senyum dan tawa Farah. Derita yang hampir enam tahun ia simpan saat Tinggal di rumah tantenya yang begitu banyak tekanan. Menyimpannya sendiri  dan tak mau seorangpun mengetahui luka hatinya. tak seorangpun ia jadikan tempat mengeluh. Berusaha menutupi semua dengan senyum dan tawa. Berusaha menerima semuanya dengan ikhlas sebagai cobaan hidup, berusaha tegar dikala ujian datang, berusaha bertahan hingga kebahagiaan yang akan datang menjemputnya. Dan ketika kebahagiaan itu datang ia yang akan berkata “Selamat Farah” kamu telah lulus menghadapi cobaan Dari-Nya. Itulah yang selalu Farah yakini. namun menjadi dan kala hatinya merasa sesak, Hanya Allah-lah tempatnya mengaduh, hanya Allah-lah tempatnya mengeluh hingga harus menangis setiap doa-doa dalam sholatnya.

Esok harinya tiba. Kejadian semalam masih meninggalkan gores luka di benak Farah . Matanya bengkak. Serta badannya terasa lemas. diusahakannya agar goresan luka batin itu bisa segera hilang hingga tak membentuk luka yang lebih besar. Diambilnya wudhu untuk sholat subhu kemudian melagukan ayat-ayat Allah. Alhamdulillah, suasana hati Farah kembali tenang. Farah  mengambil hpnya bermaksud mengirimkan pesan singkat untuk kakaknya.

“Assalamualaikum, kak…! Sudah waktu subuh, sudah sholat ?”
Berharap agar kakaknya segera membalas pesannya. Namun sepuluh menit berlalu tak ada balasan sms dari kakaknya. Iapun mengirimkan  e-mail berisi sebuah kata-kata hikmah dari seorang ulama “Imam Al-Qurtubi”

“termasuk durhaka pada orang tua adalah ketika menentang keinginan-keinginan mereka dari perkara-perkara yang mubah, sebagaimana Al-Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. oleh karena itu apabila salah satu dari keduanya memerintahkan sesuatu wajib untuk mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintaahkan bukanlah perkara wajib tapi mubah pada asalnya”

Setelah mengirimkan pesan hikmah dari Imam Al-Qurtubi Farah juga mengirim pesan untuk meminta maaf pada kaka dan adiknya.

“bismillah…!!! kaka… Farah sayang sama bapak, Farah juga sayang sama Kaka, dan sayang pula Indah, aku minta maaf kak, tak ada sedikitpun maksud ingin memperoleh sendiri kasih sayang bapak, tak ada sama sekali. Jika itu yang kaka lihat, kenyataan sebenarnya tidak seperti itu. Bapak sayang pada kita semua, ia tak memilih-milih, baginya kita adalah sama. Sama-sama anaknya. tak mungkin ada orangtua yang begitu jahat pada anaknya. Seperti kata pepatah ‘segana-ganas harimau ia takkan memakan anaknya sendiri’. Farah tak ingin kaka dan Indah benci pada bapak.

kaka….Hanya Bapak orang tua yang kita punya sekarang. Berilah perhatian dan turutilah apa yang bapak inginkan sebelum kita menyesal dengan apa yang akan terjadi esok. Serta berusahalah untuk belajar ikhlas menerima cobaan yang Allah berikan kak, jangan pernah mengeluh, karena salah satu jaminan seseorang masuk ke Syurga adalah orang yang tidak suka mengeluh… dan bukankah kita tahu bersama bahwa tidaklah beriman seorang hamba sebelum ia diuji ? Farah harap kita tetap slalu saling mengingatkan kak, menjadi keluarga yang saling menyayangi dan saling mendoakan…!!! Meski telur akan berubah menjadi ulat yang menuktan, dan ulat akan berubah menjadi kepompong, namun kepompong akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah… itulah Hidup. Yakinlah semua akan indah pada waktunya
Farah sayang Semua.



Selasa, 02 Desember 2014

~Bimbing Aku Menuju Jannah-Nya~


Perasaan itu kembali Majdah alami. Perasaan yang selalu mengusik fikiran dan membuatnya gelisah. Majdah membenci perasaan itu. Rasanya sangat tak enak, tak nyaman, dan sangat mengganggu. Tetapi sebagai manusia biasa  Majdah tak dapat menghilangkannya. Memang sangat wajar, karena itu fitrah yang Allah berikan pada semua insaan termasuk pada Majdah. Namun Majdah tak mengharapkannya sekarang, tapi nanti.
Dilema masalah hati inilah yang sedang dihadapi Majdah sekarang. Seorang mahasiswi jurusan farmasi semester ke-3 di sebuah Perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal. Ia adalah tipe gadis yang polos dan lembut, kadang ia pendiam kadang juga cerewet serta penuh senyuman. Majdah  begitu mengagumi Iman, teman kelasnya. ia lelaki yang baik, dan boleh dikatakan faham agama. Bagaimana tidak sejak SMP hingga SMA Iman mengenyam pendidikan di sebuah pondok pesatren. Itulah mengapa teman-teman sering memanggilnya dengan julukan “Pak Ustadz”.
***
Pukul 4.30 subuh Majdah telah bangun. Ia kemudian Melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah, lalu mendendangkan lantunan ayat-ayat Ilahi. setelah itu ia segera mandi. Maklumlah Majdah tinggal di Asrama kampusnya sehingga ia tak mau jika harus mengantri untuk mandi.
Hari itu Majdah memiliki Kuliah pagi. Ia masuk pukul 8.00. seperti biasa 15 menit sebelum masuk, Majdah telah berangkat ke kampus bersama Risma dan Kania, teman kelasnya yang kebetulan juga tetangga kamarnya. Sesampai mereka di kelas, belum semua teman-temannya datang. Majdah lansung mengambil tempat duduk di depan tepat dekat Jendela.
“geek” suara hp Majdah bergetar “assaamualaikum..Ukhti, apa sudah ada dosen ?” sebuah pesan singkat dari Iman.
“waalaikumussalam. belum ada. Mungkin dikit lagi dosennya datang” balas Majdah yang pada saat itu belum memiliki rasa suka pada Iman.
“oh. Iya ukhti, kalau sudah ada dosen boleh sms aku ? karena ada urusan penting yang harus ku selesaikan sekarang. Maaf merepotkan”
“ya. Insya Allah” balas Majdah singkat.
“Ok.trimakasih”
Tepat pukul 8.15 dosen baru masuk. Dan Iman belum juga datang.
“Iman. Dimana kamu sekarang ? sudah masuk nih dosennya” Majdah mengirimkan sms untuk Iman.
“aku sekarang masih di jalan Dah, kalau bapak mengabsen tolong kamu katakana saya akan datang tapi terlambat”
Majdah tak membalas pesan iman. Ada sedikit rasa jengkal di hatinya. “ ihh… emang aku ini siapa kamu nyuru-nyuru gitu kayak ndak ada teman cowok aja” gerutu Majdah.
***
Jam mata kuliah pertama berakhir.  Setelah dzuhur akan masuk kembali mata kuliah berikutnya. Majdah menghabiskan waktu tuk menunggu mata kuliah berikutnya di perpustakaan.
“Dah, kenapa kamu tahu kalau Iman hadir terlambat? Tanya Kania penasaran.
“oh,,, itu. tadi sebelum bapak masuk Iman sms aku, ia nyuruh aku agar sms dia kalau ada dosen, karena ada Urusan penting yang harus ia selesaikan” jawab Majdah
“perasaan tuh pak ustadz ndak biasa datang terlambat Dah” tambah kania lagi
“kurang tahu juga, tapi tadi begitu dosen masuk aku sms iman. Eeee. dianya malah minta aku untuk bilang kalau ia akan datang terlambat” jelas Majdah pada Kania dan Risma.
“cieeee… jadi ceritanya sms.an nih…? Sejak kapan kalian dekat?” goda Risma yang orangnya memang suka bercanda.
“aduh Rismaa….! iiiiiii apaan. Jangan mengadah-ngadah deh. Aku juga meresa aneh kenapa Iman sms aku. Padahal ia boleh sms Faris teman dekatnya. Aku jengkel orang seperti itu. Kamu juga ikut aneh Risma” kata Majdah
“hus, jangan gitu, Iman kan nggak salah apa-apa kenapa harus jengkel Dah, mungkin saja ada alasan lain sehingga Iman sms kamu. jangan karena itu kamu benci ke dia dah. Karena aku pernah baca sebuah status hadits di Fb. “bencinlah seseorang sekedarnya saja kelak suatu saat kamu akan mencintainya, dan cintailah seseorang sekedarnya saja kelak suatu saat kamu akan membencinya” kata Kania.
“hahahaha… ih… ogah deh, aku ndak bakalan suka sama si cowok yang celananya kayak orang kebanjiran itu. Tipe cowok yang aku sukai lebih dari Iman.” kata Majdah berusaha membenarkan diri.
Tak di rasa jam telah menunjukan waktu dzuhur Merekapun meninggalkan perpus menuju ke mushollah Fakultas.
***
Memasuki bulan ke dua perkuliahan.  Banyakya tugas laporan dan paraktikum membuat pola makan Majdah tidak terkontrol dan tidurnyapun kurang teratur hingga ia jatuh sakit. Namun Majdah masih saja memaksakan diri ke kampus. Hari itu kelompoknya akan mempresentasikan tugas praktikum yang telah mereka selesaikan. Kebetulan Majdah sekelompok dengan Iman, Fakih, dan Sofia,
Proses diskusi berjalan menarik, pertanyaan-pertanyaan dari kelompok lain di jawab kelompoknya dengan lengkap. Selaku pemateri majdah menginginkan agar pertanyaan dari teman-temannya tidak akan menimbulkan pertanyaan baru. Kini hanya tersisa 1 pertanyaan lagi. Pertanyaan dari Wisnu.
“baiklah, saya akan coba menjawab pertanyaan dari…….!!” Suara Majdah terhenti, ia lansung memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
“Majdah,..!! apa kamu sakit ?” Tanya pak Ilham selaku dosen botani Farmasi pada saat itu.
“oh… ndak apa-apa pak hanya sedikit pusing”. Jawab Majdah yang berusaha agar pandangannya tak berputar-putar
“ok, silahkan dilanjutkan” kata pak Ilham lagi
“Majdah, kamu baik-baik saja ? aku saja yang akan menjawab pertanyaan wisnu” kata Iman
Majdak tak menjawab apa yang Iman tanyakan ia lansung berdiri dan menjawab pertanyaan Wisnu “saya minta maaf, baiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari Wisnu yang menanyakan ten…. “bruk” Majdah tiba-tiba pingsan
Semua teman-teman majdah panic dan lansung membawa Majdah Keruang KSR. Diskusi diakhiri dan akan dilanjutkan minggu depan.
“bagaimana perasaanmu Dah, apa sudah agak baikan” Tanya Risma
Majdah tak memjawab, ia memandang sekelilingnya dengan tatapan sayu,tampak semua teman teman kelasnya berada di dekatnya “kenapa kalian semua disini” Tanya Majdah pada Teman-temannya.
“bagaimana kami tak disina Dah, kami semua khawatit terjadi sesuatu padamu” jawab Kania
“Majdah, kenapa kamu memaksakan harus ke kampus, kenapa kamu ndak istirahat aja dulu. Kenapa kamu ndak bilang kalo kamu sakit, kenapa kamu selalu menutupi sakitmu. Kenapa kepolosanmu membuat kita semua merasa kalau kamu baik-baik saja ? kesehatan itu sangat penting bagi semua orang, termasuk pada diri kamu. kalau kamu seperti ini sama saja kamu mendzolimi dirimu sendiri” kata Iman yang terlihat khawatir.
“dukkk” kata-kata Iman membuatnya ingin menangis, ada rasa penyesalan atas kecerobohannya memanange waktu. Ada rasa haru saat mengetahui teman-teman di sekitarnya mengkhawatirkan kondisi dirinya.  Perhatian itulah yang sebenarnya  ia Harapkan. Perhatian dari Orang tuanya, dan dari orang-orang yang menyayanginya. bukan hanya perhatian yang bersifat materi. Tanpa ia sadari airmatanya pun jatuh.
“sudahlah Dah, kamu tak perlu menangis seperti ini. Ini adalah pelajaran untuk kita semua. Kami semua menyayangimu Dah, maafkan kami yang tak memperhatikanmu. Jujur… Kepolosan dan Senyummu membuat kita tak menyadari ternyata kamu sedang tidak baik-baik saja” kata Kania berusaha menenangkan hati Majdah
***
Seminggu setelah kejadian itu sifat Majdah masih seperti biasanya. Polos, tertutup dan penuh senyuman. Sejak saat itu teman-teman kelasnya selalu memberi bantuan kala tugas sedang menumpuk, baik secara kelompok ataupun individu. Begitupun dengan Iman, yang sering sekelompok dengan Majdah. Hal ini membuat mereka terlihat ada sesuatu yang lain. Entah apakah itu.
“assalamualaikum… Dah, setelah sholat dan Tadarus jangan lupa makan malam yah ?” sebuah sms dari Iman.
“Waalaikumussalam.. iya, makasih telah mengingatkan” balas Majdah.
Sms dan pesan-pesan Hikmah dari Iman selalu masuk  dalam kotak masuk hpnya. Hal itu telah berjalan 2 minggu. Perhatian-perhatian dari teman-temannya membuat Majdah merasa lebih hidup dan lebih berwarna. Namun kali ini Majdah merasa ada yang aneh. Ia heran mengapa sudah dua hari Iman tak mengirimkannya pesan. Entah itu pesan untuk mengingatkannya agar tak lupa sholat atau makan ataupun sms kata-kata hikmah. Hal itu membuatnya bertanya-tanya ia bermaksud untuk mengirimkan pesan untuk sekedar menanyakan kabarnya, Namun rasa gengsinya tinggi sehingga niat itu di urungkannya.
Saat itulah Majdah baru menyadari kalau ternyata Ia mulai menyukai Iman. ”ada apa dengan Iman, apakah ia tahu aku menyukainya sehingga ia memutuskan agar tak pernah sms aku lagi ? trus bagaimanakah perasaan iman untuk aku ?” batinnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri berusaha mencari beribu alasan.
“Dah ? kamu baik-baik saja ?” Tanya Kania yang barusan nyampe di kelas.
“astagfirullahal adziim kaniaaa… kamu mengagetkanku”
“maaf say, bagaimana kamu sih, kerjanya melamuuun terus, emang kamu lagi mikirin apa sih ?”
“hm.. nggak nia, aku hanya kangen aja pada keluargaku.” Majdah berusaha menutupi apa yg lagi di Fikirkannya. “
“Oh iya,, tadi aku dan Risma berangkat duluan. Karena kamu ditungguin lama amat ?”
“hahahaha.. kenapa nunggu, semalam aku nggak ada di asrama, aku nginap di rumah tanteku, karena ada acara keluarga. Majdah”
“hahaha.. niaaa.. kenapa nggak bilang kemaren sih… untung kami nggak nunggu sampe kamu datang, sampai-sampai Risma ngambek tadi.. hehehe.”
Sementara Asik bercerita Iman datang. Wajah Majdah tiba-tiba memerah padam, jantungnyapun berdenyut lebih dari biasanya. Perasaan yang dialaminya sekarang membuatnya terganggu setiap kali ada Iman. Meski begitu, Majdah berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin dihadapan Iman ataupun pada teman-temannya.
“kenapa Iman kelihatan berubah, Biasanya ia selalu menanyakan kabarku. Mengapa sekarang tidak ?” kata-kata itu selalu saja datang, untuk meminta jawaban.
***
Malam itu, sekitar jam setengah delapan Majdah masih mengerjakan tugas Kuliahnya yang akan dikumpulkan besok. Tiba-tiba hp bergetar “geek” Majdah lalu mengambil hpnya. 1 pesan belum dibaca dari nomor tak diketahuinya. Ia lalu menekan tombol lihat “ Bismillah… Assalamualaikum, hadirilah talkshow Muslimah dengan tema “bimbing aku menuju jannah-Nya”. Setelah membaca pesan itu dengan teliti letakkan kembali hpnya. Ia sama sekali tidak berminat mengikuti kegiatan-kegiatan yang bertemakan islam. Meskipun ia islam dan berkerudung, namun ia tak mau terlalu di katakana sok alim atau fanatic.
Setelah tugas-tugasnya di kerjakan, iapun membereskan buku-bukunya yang berhamburan di lantai kemudian bersiap untuk tidur. Sebelum tertidur entah hal apa Majdah kembali ingin membaca pesan dari nomor yang tidak diketahuinya tadi. “hm… temanya sih menarik juga, tapi aku tak mau dibilangin sok alim, aku tak mau sama seperti orang-orang yang dilihat alim padahal masih terlalu banyak dosa yang ku buat. Aku masih ingin memperbaiki hatiku dulu” kata Majdah dalam hati.
Pagi yang cerah, Sang surya mulai menampakkan sinarnya yang merah merona. langit tampak begitu bersih tanpa sedikitpun noda. Setelah sholat subuh dan tadarus, Majdah membuka jendela kamarnya untuk menikmati udara pagi. suasana hatinya terasa lebih tenang dari biasanya. Hari ini Majdah kuliah sore, jadi ia tak perlu terburu-buru untuk mandi.
Sementara asyik menikmati Udara pagi, Majdah mengambil hpnya bermaksud untuk memutar sebuah lagu favoritnya. Asyik mengotak-atik hp, tanpa disadari ia membuka sms yang semalam masuk. Ia merasa ada yang aneh. Padahal sms itu sudah dibacanya berkali-kali, tapi entah mengapa jari-jarinya selalu ingin membuka pesan itu.
“hm… aneh, Apakah aku harus ikut kegiatannya ? aku malu ikut begituan. Ah…!! kenapa aku nggak mencobanya ?”fikir Majdah.
Majdah membaca pesan itu lagi. “siapa sih yang ngirinkan aku pesan ini ? apa dia nggak salah kirimnah ? hmm.. ah ketemu ini dia caranya” ketik BMJ_NAMA_JUR/ANG_NO.Hp kirim ke 085656454xxx  Majdah lalu menuliskan pesan untuk mendaftarkan diri “ BMJ_Majdah Hidayah Syauqiah Apoteker/2008_0813488990xxx. Bismillah.” Majdahpun menekan tombol Send.
Ternyata mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan sangatlah bermanfaat, mempunyai banyak teman yang bisa selalu mengingatkan dikala salah, lupa, ataupun khilaf. Memperoleh tambahan ilmu yang pada mulanya kita tak mengetahuinya akhirnya menjadi tahu. Itulah yang Majdah alami. Atas ilmu yang telah ia dapatkan, Perlaham-lahan Majdah mengubah kebiasaan-kebiasaan buruknya, cara berpakaiannya pun di ubahnya. Dulunya ia suka memakai pakaian yang mengikuti badan sekarang mulai terbiasa memakai Rok, dan jilbabnya sedikit lebih panjang dari sebelum-sebelumnya.
Namun tak bisa ia bohongi kalau rasa suka pada Iman belum bisa di hilangkannya, meski  telah setahun lebih ia dan Iman tak pernah lagi berkomunikasi. Saat berada di kelaspun Iman akan bicara ketika ia diam begitupula dengannya. Mereka sama-sama menjaga jarak antara keduanya.
Majdah sadar, mungkin inilah sebabnya dulu Iman menjauhinya. Ia baru tahu ternyata dalam ajaran Islam antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim harus saling menjaga jarak dan menundukan pandangan.
***
Tiga tahun berlalu. Majdah senang dengan kehidupannya sekarang. Bisa berkumpul bersama teman-teman akhwat  yang baik-baik, yang selalu menasihatinya, menegurnya dan selalu menghiburnya dikala ia merasa bersedih dan terpuruk. Ia merasa keluarga yang ia punya sekarang sungguh sangatlah berarti. Itulah yang dinamakan “Ukhuwah”.
Sejak kelulusannya sebagai sarjana Apoteker, ilmu yang ia dapatkan saat masih kuliah ia terapkan dengan  membuka sebuah apotik herbal ala Rasulullah. Dan ia juga masih tetap aktif di kajian-kajian kemuslimahan. Hal itulah yang membuatnya lebih memahami akan sempurnahnya ajaran agama ALLAH. Ia tak mau lagi mengingat-ngingat kebodohan masalalunya. karena dulu ia pernah berkata tak akan mau  ikut-ikut dalam kajian-kajian keislaman. Baginya itu cukuplah di kenang, cukup dijadikannya sebagai pelajaran hidup. Mengenang hal itu membuatnya ingin tertawa. Bagi Majdah ia Amat bersyukur Allah masih memberikan Hidayah kepadanya. Itu Menandakan Allah menyayanginya. Dan menginginkan  perubahan yang lebih baik pada dirinya.
Hingga saat ini, Majdah masih bertanya-tanya siapakah pemilik nomor, yang pernah mengirimkan pesan talkshow untuknya. Ia sungguh sangat berterimakasih padanya. Karena bagi Majdah siapapun orangnya, ia telah membantunya menjemput hidayah Allah. orang itu pasti sayang pada Majdah dan ingin Majdah berubah menjadi lebih baik sehingga mengajaknya untuk belajar islam.
“subhanallah.. Majdah ?” teriak Risma kaget melihat perubahan pada diri Majdah.
Setelah Wisuda, mereka memang tak pernah lagi bertemu. Karena Risma harus kembali ke kampungnya dan Bekerja disana. Sementara Kania telah menikah dengan seorang Guru SMP dan ikut bersama suaminya. Kini hanyalah majdah yang masih menetap di kota itu. Ia belum punya keinginan untuk kembali ke kampungnya. Lagian itu adalah tempat kelahirannya meski ia di besarkan di daerah orang lain.
“Ya Allah Risma, Aku kangen bangat sama kamu, bagaimana kabarmu Ris ?” Tanya Majdah.
“Alhamdulillah aku baik. subhanallah, kamu sungguh telah banyak berubah Dah”.
“yah.. namanya juga Manusia Ris, seharusnya bisa berubah menjadi lebih baik. Karena sungguh sangatlah merugi bagi seseorang yang apabila dirinya hari ini masih sama seperti kemaren, dan celakalah begi seseorang yang apabila dirinya hari ini lebih buruk dari kemarin”. Jawab Majdah.
“masya Allah bu Ustadzah… kata-katamu sungguh sangat menyentuh, aku pengen nangis loh dah”
“hm… kenapa harus hangis, kita sebagai hamba Allah kan harus saling nasihat menasihati kan ?”
“iya Majdah”. Majdah dan Rismapun saling berpelukan.
Risma sangat takjub dengan perubahan Majdah. Iapun kaget ternyata apotik tempatnya memesan obat herbal untuk ibunya adalah apotik milik Majdah. Dan ia semakin takjub saat mendengar cerita Majdah menjemput  Hidayah Allah. Rupanya Dulu ia telah salah menilai Majdah. Ia berfikir Majdah tak mau lagi berteman bersamanya, kania, ataupun teman-teman lainnya. karena Majdah tak mau lagi diajak ngumpul-ngimpul untuk nongkrong. Rupanya disitulah Majdah mulai Ingin Berubah. Risma juga ternyata penasaran dengan pemilik nomor hp yang telah mengirimkan pesan untuk Majdah.
“apa kamu sudah menghubingi nomor itu dah ?”
“hm, dulu aku memang penasaran siapa orangnya. Tapi aku tak berfikir untuk mencari tahu siapa dia”
“trus…???”
“yah,,, setelah perubahanku sampai pada sekarang ini, aku mencoba menghubingi nomor itu, namun selalu saja nomor tersebut berada di luar jangkauan. Sebenarnya suatu hari ada sms masuk berisi kata Mutiara untuk seorang wanita Muslimah, namun ketika aku coba hubungi nomor itu tak aktif, sungguh itu membuatku bingung” jelas Majdah
“Apa kamu tak berfikir itu Iman Jdah ?”
“apa….?” Majdah kaget mendengar pertanyaan Risma. Ia tak tahu harus menjawab apa. Selama ini Majdah sama sekali tak berfikir kalau itu adalah nomor hp Iman, karena pesan yang sering masuk adalah pesan berisikan pesan untuk wanita sholehah.
“kenapa Diam dah ? apa itu bukan nomornya Iman ?”
“wallahu a’lam Ris, aku tak pernah berfikir kalau itu dia. Sudah lama aku nggak tahu kabarnya.lagian nggak mungkin kalau itu Iman” papar Majdah
“tapi Bisa saja kan Dah kalau itu nomornya.”
“Ya Allah Ris,,,tak mungkin itu Iman. Sudahlah  yang penting sekarang siapapun dia, aku sangat berterimakasih padanya. Semoga apa yang aku lakukan dapat menjadikan Amal jari’ah untuknya”
***
Sebulan berlalu. Hari ini Majdah ada pengajian sore. Sehingga prakteknya tak bisa ia buka sampai malam. Ia hanya menerima pasien hingga tiba waktu ashar.
“Majdah ada  sesuatu yang Pengen Ummi tanyakan ke kamu” kata Ummi  Fa’iz, pembimbing pengajiannya usai mengisi pengajian sore itu
“oh iye Ummi, tafaddali” jawab Majdah
“iyah, kita Tunggu sampai semua keluar dulu.”
Majdah sedikit penasaran. Tak seperti  biasanya jika ada hal-hal yang ummi ingin tanyakan tidak harus menunggu semua orang kaluar. Namun kali ini berbeda. Begitu semuanya keluar meninggalkan tempat pengajian, ummi memulai pembicaraannya.
“begini Majdah, Kemarin ada seorang lelaki menemui abi Fa’iz, suami ummi. Namanya ustadz Iman. Ia  lulusan dari Universitas Islam Internasional Malaysia fakultas kedokteran, ia bermaksud untuk mengkhitbahmu, sehingga ia meminta abi Fa”iz dan ummi untuk menyampaikannya padamu.
Majdah kaget mendengar kata-kata dari Ummi Fa’iz. Dulu saat Majdah masih kuliah dan belum memahami Islam, orang yang pernah membuatnya jatuh hati bernama Iman, Iman Ar-Razqi, teman seangkatan dan sekelasnya. Namun sekarang ia tidak mengetahui siapakah Iman yang bermaksud mengkhitbahnya itu.
Majdah bahagia tetapi juga sedih. Bahagia karena ada lelaki sholeh yang bermaksud menjadi imamnya. Tetapi  entah mengapa, Majdah seperti mengharapkannya. Ia sedang menunggu seseorang. Yang entah diapun  tak mengetahui siapa orang itu.  Majdah tahu, bahwa ada hadist nabi yang mengatakan apabila telah datang laki-laki sholaeh menghitbahmu, maka terimalah. Jika tidak maka ia akan mendapatkan musibah. Itulah mengapa ia sedih. Ia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari ummi. Sungguh ia belum dapat menentukannya saat itu juga.
“aku  minta maaf  Ummi, aku tak bisa menjawabnya sekarang, aku  butuh waktu utuk memikirkan semua itu” jawab Majdah pelan.
“ummi memahami perasaanmu dah, ya sudah ummi memberikanmu waktu 3 hari. Pulanglah dan sholat istikharalah, semoga Allah memberimu jawaban yang terbaik”
***
Tiga  hari telah berlalu. Hari ini  Majdah  akan memberitahukan keputusannya pada ummi fa’iz. Setelah melakukan ibadah-ibadah sunnah, dan sholat istikhara akhirnya Majdah dapat mengambil keputusan.
“jadi bagaimana Dah ? apakah sudah kamu putuskan ? kami akan menerima apapun itu” ucap Ummi Fa’iz membuka pembicaraan.
“bismillah...! baiklah Ummi, kalau memang laki-laki itu bermaksud mengkhitbahku, maka suruhlah ia datang  pada kedua Orang tuaku. Insya Allah aku menerimanya jikalau ia telah mendapatkan ridho kedua orangtuaku”
“Alhamdulillah, baiklah Majdah. Insya Allah ustadz Iman akan segera datang pada kedua orang tuamu bersama Ummi dan abi Fa’iz”
***
Sebulan setelah proses ta’aruf dan lamaran. Hari ini  adalah hari dimana Majdah telah berubah status menjadi seorang istri.  Mendengar ucapan ijab-qabul antara bapak dan Iman membuat  Majdah meneteskan airmata. Airmata kebahagiaan. Ia sungguh sangat bersyukur. Ternyata laki-laki yang menjadi Imamnya adalah Iman Ar-Razqi. Orang yang di sukainya dulu.
“Assalamualaikum….!  Trimakasih sayang telah berkenan menerima pinanganku. Maaf selama ini aku tak pernah memberitahu siapa aku, pemilik nomor ini. Ini adalah caraku mencintaimu. Mencintaimu karena Allah. Aku ingin kita bisa sama-sama berubah menjadi lebih baik. Sehingga dulu aku menghindarimu. Dulu  aku telah menyukaimu sayang dan aku tak ingin rasa sayangku menodai dirimu. sekarang aku  sunggu bahagia telah memilikimu sayang. Aku bahagia Allah menyatukan cinta antara kita”

Majdah membaca pesan dari nomor yang selama ini ingin diketahui siapa pemiliknya. Begitu membaca, ternyata dia adalah Iman, suaminya sendiri. Orang yang telah membuatnya menjemput hidayahNya. Majdah menangis bahagia dan mencium tangan suaminya.